25 Juni 2015
Fregat kelas Van Speijk TNI AL (photo : Kaskus Militer)
Jakarta (ANTARA News) - TNI AL memiliki enam kapal fregat kelas Van Speijk bekas pakai Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang berasal dari dasawarsa ’70-an.
“Sudah terlalu tua dan perlu diremajakan dan kami juga fokus pada hal ini,” kata Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, di Markas Besar TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu malam.
Dia menyatakan itu menanggapi wacana dari sebagian anggota Komisi I DPR tentang perkuatan TNI AL dan TNI AU. Pemerintah seharusnya lebih menguatkan kedua matra TNI ini ketimbang TNI AD mengingat fokus pembangunan yang bervisi kemaritiman.
Jika fokus ini konsisten dilakukan, menurut sebagian anggota Komisi I DPR dalam satu diskusi, Selasa (23/6), maka anggaran pertahanan perlu ditambah dan alokasi anggaran kepada TNI AL dan TNI AU harus ditambah.
TNI AL, menurut Supandi, berpatokan pada peta jalan Kekuatan Efektif Minimum (MEF) yang telah ditetapkan sejak pemerintahan Presiden Susilo Yudhoyono.
Salah satu peta jalan perkuatan arsenal TNI AL itu adalah melanjutkan pembangunan dua kapal fregat berpeluru kendali buatan PT PAL dan koleganya di Belanda, penggantian kapal latih tiang tinggi KRI Dewaruci —juga akan dinamakan KRI Dewaruci— yang sedang dibangun di Spanyol, dan pengadaan dua kapal hidrografi canggih dari Prancis (satu sudah datang, KRI Rigel).
Ditanya apakah TNI AL menyiapkan “rencana cadangan” jika ada penambahan anggaran negara untuk perkuatan arsenalnya, Supandi menjawab, “Ada, percepatan fregat itu. Kami evaluasi kapal yang dari Belanda itu, kami punya enam fregat kelas Van Speijk itu dan evaluasi sedang dilakukan di PT PAL.”
KRI Karel Sasuit Tubun-356 dari kelas Van Speijk itu juga sudah banyak jasanya bagi negara, di antaranya menjadi “benteng” terapung TNI AL saat konflik Ambalat pertama mengemuka.
Sejak KRI Karel Sasuit Tubun-356 hadir di perairan itu, kapal-kapal perang Tentera Laut Diraja Malaysia menjaga jarak secara signifikan dari Karang Unarang dan perairan di Ambalat.
Dalam doktrin perang di laut, keberadaan kapal perang kelas fregat ini sangat menentukan. Fregat tidak didedikasikan untuk pasukan pendarat dan berada di atas kelas korvet serta di bawah kelas destroyer.
Dengan ukurannya yang menengah dari sisi dimensi dan tonase, dia mampu menjadi pangkalan udara terapung, pijakan peluncuran peluru kendali permukaan dan bawah laut, penginderaan, intelijen (peluncuran tim pasukan khusus), dan pengamatan, hingga "jangkar" eksistensi angkatan laut di perairan.
(Antara)
Rabu, 24 Juni 2015
TNI AU Usulkan Peningkatan Status Lanud Tarakan dari Tipe C Menjadi Tipe B
Posted By: Admin - 19.13
25 Juni 2015
Tarakan, Kalimantan Utara (image : Google Maps)
Cegah Pelanggaran, TNI AU Usulkan Peningkatan Status Lanud Tarakan
JAKARTA - TNI Angkatan Udara (AU) mengusulkan peningkatan status Landasan Udara (Lanud) Tarakan, Kalimantan Utara dari tipe C menjadi tipe B. Hal itu sebagai upaya untuk memperkuat penjagaan terhadap kedaulatan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari gangguan keamanan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma TNI Dwi Badarmanto mengaku sudah mengusulkan peningkatan status lanud tersebut kepada Mabes TNI. Peningkatan status ini diharapkan bisa memperkuat Lanud Tarakan sebagai salah satu pangkalan pertahanan udara terluar di wilayah NKRI.
Menurut Dwi, dengan peningkatan status tersebut maka kemampuan lanud juga semakin bertambah dengan adanya satu skuadron pesawat tempur penyergap yang di tempatkan di Lanud Tarakan. Selama ini, dalam menindak pelanggaran wilayah udara, Lanud Tarakan, yang resmi berdiri pada 2009, masih mengandalkan bantuan pesawat tempur dari Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar.
”Ini tentu akan memakan waktu lama dalam hal penindakan karena jarak yang lumayan jauh,” ujarnya di Jakarta kemarin. Dwi menjelaskan, semua kajian soal peningkatan status Lanud Tarakan juga sudah disampaikan kepada pemegang kebijakan, termasuk hakikat ancaman yang mungkin terjadi di wilayah udara tersebut.
Diakuinya, upaya peningkatan status lanud akan membawa konsekuensi logis, seperti kesiapan lahan, infrastruktur pendukung, baik untuk hanggar pesawat maupun perumahan buat prajurit. ”Sebisa mungkin akan segera terealisasi. Sejauh ini semua bentuk pelanggaran wilayah udara telah dilaporkan ke pimpinan tertinggi baik ke Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) maupun Panglima TNI,” ujarnya.
Pengamat hukum internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai, ada klaim tumpang tindih di perairan Ambalat di mana Indonesia mengklaimnya sebagai Blok Ambalat sesuai dengan dasar hukum UNCLOS, sementara Malaysia menyebutnya sebagai ND7 dan ND9 sesuai peta 1979. ”Ini masih menjadi negosiasi yang belum berakhir. Harusnya Malaysia menghormati status quo agar tidak terjadi konflik di tingkat masyarakat,” katanya.
Menurut Hikmahanto, bila terjadi pelanggaran di daerah status quo sebaiknya dilakukan protes diplomatik. Memang dibutuhkan kesabaran yang tinggi. Hikmahanto menyarankan, pemerintah Indonesia untuk tidak tergesa-gesa menghadapi persoalan ini, bila belum mendapatkan apa yang diinginkan lebih baik jangan segera diselesaikan. ”Kalau mau cepat-cepat ke Mahkamah Internasional maka kalau putusannya tidak berpihak pada kita, maka Indonesia akan kehilangan klaim seperti Sipadan dan Ligitan,” ujarnya.
(KoranSindo)
Tarakan, Kalimantan Utara (image : Google Maps)
Cegah Pelanggaran, TNI AU Usulkan Peningkatan Status Lanud Tarakan
JAKARTA - TNI Angkatan Udara (AU) mengusulkan peningkatan status Landasan Udara (Lanud) Tarakan, Kalimantan Utara dari tipe C menjadi tipe B. Hal itu sebagai upaya untuk memperkuat penjagaan terhadap kedaulatan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari gangguan keamanan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma TNI Dwi Badarmanto mengaku sudah mengusulkan peningkatan status lanud tersebut kepada Mabes TNI. Peningkatan status ini diharapkan bisa memperkuat Lanud Tarakan sebagai salah satu pangkalan pertahanan udara terluar di wilayah NKRI.
Menurut Dwi, dengan peningkatan status tersebut maka kemampuan lanud juga semakin bertambah dengan adanya satu skuadron pesawat tempur penyergap yang di tempatkan di Lanud Tarakan. Selama ini, dalam menindak pelanggaran wilayah udara, Lanud Tarakan, yang resmi berdiri pada 2009, masih mengandalkan bantuan pesawat tempur dari Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar.
”Ini tentu akan memakan waktu lama dalam hal penindakan karena jarak yang lumayan jauh,” ujarnya di Jakarta kemarin. Dwi menjelaskan, semua kajian soal peningkatan status Lanud Tarakan juga sudah disampaikan kepada pemegang kebijakan, termasuk hakikat ancaman yang mungkin terjadi di wilayah udara tersebut.
Diakuinya, upaya peningkatan status lanud akan membawa konsekuensi logis, seperti kesiapan lahan, infrastruktur pendukung, baik untuk hanggar pesawat maupun perumahan buat prajurit. ”Sebisa mungkin akan segera terealisasi. Sejauh ini semua bentuk pelanggaran wilayah udara telah dilaporkan ke pimpinan tertinggi baik ke Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) maupun Panglima TNI,” ujarnya.
Pengamat hukum internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai, ada klaim tumpang tindih di perairan Ambalat di mana Indonesia mengklaimnya sebagai Blok Ambalat sesuai dengan dasar hukum UNCLOS, sementara Malaysia menyebutnya sebagai ND7 dan ND9 sesuai peta 1979. ”Ini masih menjadi negosiasi yang belum berakhir. Harusnya Malaysia menghormati status quo agar tidak terjadi konflik di tingkat masyarakat,” katanya.
Menurut Hikmahanto, bila terjadi pelanggaran di daerah status quo sebaiknya dilakukan protes diplomatik. Memang dibutuhkan kesabaran yang tinggi. Hikmahanto menyarankan, pemerintah Indonesia untuk tidak tergesa-gesa menghadapi persoalan ini, bila belum mendapatkan apa yang diinginkan lebih baik jangan segera diselesaikan. ”Kalau mau cepat-cepat ke Mahkamah Internasional maka kalau putusannya tidak berpihak pada kita, maka Indonesia akan kehilangan klaim seperti Sipadan dan Ligitan,” ujarnya.
(KoranSindo)
Singapore Delegation Visits Final Assembly and Check Out of F-35 at Cameri, Italia
Posted By: Admin - 01.48
22 Juni 2015
An official delegation of Singapore’s Defence Science and Technology Agency (DSTA) visits the F-35 Final Assembly and Check Out (FACO) facility at Cameri, near Novara, operated by Alenia Aermacchi and the Italian air force. Could Singapore become another buyer of Italian-assembled F-35, after the Netherlands? (photo : Bergamopost)
CAMERI, Italy --- On Thursday, June 11, a delegation from Singapore visited Cameri air base. Led by Mr. Tan Peng Yam, head of Singapore’s Defence Science and Technology Agency (DSTA), was accompanied by Brig. Gen. Pasquale Montegiglio, from the General Defense Secretariat and Directorate General of Armaments.
The delegation was welcomed by Colonel Carlo Uberti, chief of the JSF Initial Training Team at Cameri, representing Gen. Inspector Lucio Bianchi, chief of the Multifunction Tactical Air Vehicle Center (Centro Polifunzionale Velivoli Aerotattici, Ce.Po.V.A.).
An introductory briefing was given by the NIF commander on the status of the Ce.Po.V.A. and of the Final Assembly and Check Out (F.A.C.O.) facility which will assemble the F-35 Joint Strike Fighter (J.S.F.).
The visit continued with a tour of the FACO installation, where the delegation saw work in progress.
In his message on the unit’s Honor Roll, Mr. Tan Peng Yam expressed his congratulations for the high level attained by Italy’s aerospace industry and its air force, the Aeronautica Militare.
(Aeronautica Militare/Defense Aerospace)
An official delegation of Singapore’s Defence Science and Technology Agency (DSTA) visits the F-35 Final Assembly and Check Out (FACO) facility at Cameri, near Novara, operated by Alenia Aermacchi and the Italian air force. Could Singapore become another buyer of Italian-assembled F-35, after the Netherlands? (photo : Bergamopost)
CAMERI, Italy --- On Thursday, June 11, a delegation from Singapore visited Cameri air base. Led by Mr. Tan Peng Yam, head of Singapore’s Defence Science and Technology Agency (DSTA), was accompanied by Brig. Gen. Pasquale Montegiglio, from the General Defense Secretariat and Directorate General of Armaments.
The delegation was welcomed by Colonel Carlo Uberti, chief of the JSF Initial Training Team at Cameri, representing Gen. Inspector Lucio Bianchi, chief of the Multifunction Tactical Air Vehicle Center (Centro Polifunzionale Velivoli Aerotattici, Ce.Po.V.A.).
An introductory briefing was given by the NIF commander on the status of the Ce.Po.V.A. and of the Final Assembly and Check Out (F.A.C.O.) facility which will assemble the F-35 Joint Strike Fighter (J.S.F.).
The visit continued with a tour of the FACO installation, where the delegation saw work in progress.
In his message on the unit’s Honor Roll, Mr. Tan Peng Yam expressed his congratulations for the high level attained by Italy’s aerospace industry and its air force, the Aeronautica Militare.
(Aeronautica Militare/Defense Aerospace)
Penerbang Tempur Lanud Iswahjudi, Latihan Terbang Subuh
Posted By: Admin - 01.06
24 Juni 2015
Pesawat T-50i Golden Eagle Take Off di run way Lanud Iswahjudi, melaksanakan misi latihan terbang subuh, Selasa (1photo : TNI AU).
Pen Lanud Iswahjudi, Magetan, - Di minggu pertama bulan suci Ramadhan tahun 2015, Lanud Iswahjudi melaksanakan latihan terbang subuh, dengan melibatkan pesawat tempur yang berada di jajaran Wing 3 Lanud Iswahjudi, yaitu pesawat tempur F-16 Skadron Udara 3, pesawat tempur latih T-50i Golden Eagle dari Skadron Udara 15 dan pesawat tempur F-5 Tiger dari Skadron Udara 14 menggunakan area latihan local Lanud Iswahjudi, Selasa (23/6/15).
Latihan yang sudah terlaksana dua hari tersebut direncanakan hingga tanggal 9 Juli mendatang, hal tersebut sudah menjadi agenda rutin bagi Lanud Iswahjudi dengan tujuan untuk mengasah dan meningkatkan ketrampilan serta kemampuan para penerbang pesawat tempur F-16, penerbang pesawat tempur T-50i Golden Eagle dan pesawat tempur F-5 Tiger, khususnya dalam melaksanakan dan membiasakan misi pada dini hari/subuh yang mengandalkan instrumen yang ada serta visual yang sangat terbatas.
Dalam pelaksanaan latihan terbang subuh tersebut Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Donny Ermawan T. M.D.S, menekankan kepada seluruh penerbang dan pendukung penerbangan untuk selalu mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, sehingga zero accident dapat terwujud.
(TNI AU)
Pesawat T-50i Golden Eagle Take Off di run way Lanud Iswahjudi, melaksanakan misi latihan terbang subuh, Selasa (1photo : TNI AU).
Pen Lanud Iswahjudi, Magetan, - Di minggu pertama bulan suci Ramadhan tahun 2015, Lanud Iswahjudi melaksanakan latihan terbang subuh, dengan melibatkan pesawat tempur yang berada di jajaran Wing 3 Lanud Iswahjudi, yaitu pesawat tempur F-16 Skadron Udara 3, pesawat tempur latih T-50i Golden Eagle dari Skadron Udara 15 dan pesawat tempur F-5 Tiger dari Skadron Udara 14 menggunakan area latihan local Lanud Iswahjudi, Selasa (23/6/15).
Latihan yang sudah terlaksana dua hari tersebut direncanakan hingga tanggal 9 Juli mendatang, hal tersebut sudah menjadi agenda rutin bagi Lanud Iswahjudi dengan tujuan untuk mengasah dan meningkatkan ketrampilan serta kemampuan para penerbang pesawat tempur F-16, penerbang pesawat tempur T-50i Golden Eagle dan pesawat tempur F-5 Tiger, khususnya dalam melaksanakan dan membiasakan misi pada dini hari/subuh yang mengandalkan instrumen yang ada serta visual yang sangat terbatas.
Dalam pelaksanaan latihan terbang subuh tersebut Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Donny Ermawan T. M.D.S, menekankan kepada seluruh penerbang dan pendukung penerbangan untuk selalu mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, sehingga zero accident dapat terwujud.
(TNI AU)
Selasa, 23 Juni 2015
FA-50PH #1 Sukses Melaksanakan Terbang Perdana
Posted By: Admin - 21.50
24 Juni 2015
FA-50PH#1 setelah sukses melaksanakan terbang perdana (all photos : KAI)
Tahun lalu pada tanggal 28 Maret 2014 Republik Filipina telah menda-tangani kontrak pembelian 12 pesawat latih lanjut FA-50, dalam kontrak tersebut dua pesawat pertama diminta pengirimannya pada tahun 2015.
Pada tanggal 19 Juni 2015 pesawat terbang FA-50 pertama yang diberi kode FA-50PH # 1 telah berhasil menyelesaikan penerbangan pertamanya.
Republik Filipina telah meminta agar pengiriman dua pesawat pertama dapat terealisasi sebelum akhir tahun ini. KAI akan melakukan yang terbaik agar dapat memberikan 2 pesawat awal sebelum akhir tahun ini.
(KAI)
FA-50PH#1 setelah sukses melaksanakan terbang perdana (all photos : KAI)
Tahun lalu pada tanggal 28 Maret 2014 Republik Filipina telah menda-tangani kontrak pembelian 12 pesawat latih lanjut FA-50, dalam kontrak tersebut dua pesawat pertama diminta pengirimannya pada tahun 2015.
Pada tanggal 19 Juni 2015 pesawat terbang FA-50 pertama yang diberi kode FA-50PH # 1 telah berhasil menyelesaikan penerbangan pertamanya.
Republik Filipina telah meminta agar pengiriman dua pesawat pertama dapat terealisasi sebelum akhir tahun ini. KAI akan melakukan yang terbaik agar dapat memberikan 2 pesawat awal sebelum akhir tahun ini.
(KAI)
Second LHD Commences Sea Trials
Posted By: Admin - 19.49
24 Juni 2015
The two Landing Helicopter Dock ships pictured at the Williamstown shipyard. (photo : Aus DoD)
The second Landing Helicopter Dock (LHD) ship, NUSHIP Adelaide, has departed from the Williamstown shipyard in Melbourne to begin sea trials.
BAE Systems Australia stated that the LHD left Williamstown on June 17. After initial trials carried out in Port Phillip Bay, the future Royal Australian Navy (RAN) ship is expected to spend 10 days travelling to Sydney.
While in Sydney, NUSHIP Adelaide will be dry-docked so that the hull and flight deck can be cleaned and painted. The LHD will then set sail and undertake further sea trials during the return voyage to Melbourne, where she is anticipated to arrive in mid-July.
BAE Systems said in a statement that the current testing is paving the way for a second period of sea trials in August that will focus on the communications and combat systems, ahead of delivery to the RAN later this year.
“We will undertake approximately 240 hours of testing over 20 days to ensure all systems perform to their capability,” said Bill Saltzer, Director of Maritime. “Some of the trials will run concurrently, and cover everything from basic systems operations such as alarms to the ship’s manoeuvrability while at sea.
“We are on track to deliver NUSHIP Adelaide at the end of September this year. The ship is even more ready than HMAS Canberra was for her first sea trials, reinforcing that we have implemented lessons learned from the first of class, and we have continued to improve our productivity.”
The first LHD was formally commissioned into the Fleet in November.
(ADBR)
The two Landing Helicopter Dock ships pictured at the Williamstown shipyard. (photo : Aus DoD)
The second Landing Helicopter Dock (LHD) ship, NUSHIP Adelaide, has departed from the Williamstown shipyard in Melbourne to begin sea trials.
BAE Systems Australia stated that the LHD left Williamstown on June 17. After initial trials carried out in Port Phillip Bay, the future Royal Australian Navy (RAN) ship is expected to spend 10 days travelling to Sydney.
While in Sydney, NUSHIP Adelaide will be dry-docked so that the hull and flight deck can be cleaned and painted. The LHD will then set sail and undertake further sea trials during the return voyage to Melbourne, where she is anticipated to arrive in mid-July.
BAE Systems said in a statement that the current testing is paving the way for a second period of sea trials in August that will focus on the communications and combat systems, ahead of delivery to the RAN later this year.
“We will undertake approximately 240 hours of testing over 20 days to ensure all systems perform to their capability,” said Bill Saltzer, Director of Maritime. “Some of the trials will run concurrently, and cover everything from basic systems operations such as alarms to the ship’s manoeuvrability while at sea.
“We are on track to deliver NUSHIP Adelaide at the end of September this year. The ship is even more ready than HMAS Canberra was for her first sea trials, reinforcing that we have implemented lessons learned from the first of class, and we have continued to improve our productivity.”
The first LHD was formally commissioned into the Fleet in November.
(ADBR)
Indonesian Chief of Navy Visits Swedish Naval Base
Posted By: Admin - 18.04
24 Juni 2015
Indonesian and Swedish delegates in front of the Visby Class Corvette (photo : Saab)
Indonesian Chief of Navy Visits Swedish Naval Base
The Indonesian Chief of Navy, Admiral Ade Supandi, recently visited the Swedish Armed Forces Naval base in Karlskrona in the southern part of Sweden, from 8 – 9 June, 2015. He was welcomed by the Chief of Navy of the Royal Swedish Navy, Rear Admiral Jan Thörnqvist and spent a day and a half at the base learning more about the Composite Ships currently in operation by the Royal Swedish Navy.
The visit also included a tour on board a Visby Class Corvette and a mine hunting vessel. In addition to that, the two Chiefs of Navy also visited the new Naval Warfare Centre with simulators and training equipment.
Landsort / Koster Class Minehunter (photo : amekiel)
Head of Saab Indonesia, Peter Carlqvist together with Senior Director, Head of Naval Combat Systems at Saab, Stefan Hedenstedt, also had the opportunity to present Saab’s Naval portfolio and Saab Kockums Mine Counter Measures Capabilities, Composite and Stealth Technologies. They jointly presented Saab’s presence, activities and cooperation in Indonesia as well as the Stealth Fast Attack Craft (Trimaran) turnkey maritime solution to Admiral Supandi.
Admiral Supandi was accompanied by a delegation of high ranking Naval Officers, including Chief of Budgeting, Rear Admiral Agung Pramono and Chief of Operation, Rear Admiral Arie Henrycus Sembiring. Their Excellences, the Indonesian Ambassador to Sweden, Mr. Dewa Made Juniarta Sastrawa and the Swedish Ambassador to Indonesia, Mrs. Johanna Brismar Skoog, also participated in this visit.
(SaabGroup)
Indonesian and Swedish delegates in front of the Visby Class Corvette (photo : Saab)
Indonesian Chief of Navy Visits Swedish Naval Base
The Indonesian Chief of Navy, Admiral Ade Supandi, recently visited the Swedish Armed Forces Naval base in Karlskrona in the southern part of Sweden, from 8 – 9 June, 2015. He was welcomed by the Chief of Navy of the Royal Swedish Navy, Rear Admiral Jan Thörnqvist and spent a day and a half at the base learning more about the Composite Ships currently in operation by the Royal Swedish Navy.
The visit also included a tour on board a Visby Class Corvette and a mine hunting vessel. In addition to that, the two Chiefs of Navy also visited the new Naval Warfare Centre with simulators and training equipment.
Landsort / Koster Class Minehunter (photo : amekiel)
Head of Saab Indonesia, Peter Carlqvist together with Senior Director, Head of Naval Combat Systems at Saab, Stefan Hedenstedt, also had the opportunity to present Saab’s Naval portfolio and Saab Kockums Mine Counter Measures Capabilities, Composite and Stealth Technologies. They jointly presented Saab’s presence, activities and cooperation in Indonesia as well as the Stealth Fast Attack Craft (Trimaran) turnkey maritime solution to Admiral Supandi.
Admiral Supandi was accompanied by a delegation of high ranking Naval Officers, including Chief of Budgeting, Rear Admiral Agung Pramono and Chief of Operation, Rear Admiral Arie Henrycus Sembiring. Their Excellences, the Indonesian Ambassador to Sweden, Mr. Dewa Made Juniarta Sastrawa and the Swedish Ambassador to Indonesia, Mrs. Johanna Brismar Skoog, also participated in this visit.
(SaabGroup)
Langganan:
Postingan (Atom)








Popular
Tags
Videos