11 Agustus 2015
Pesawat Hercules TNI AU A1323(photo : lakako)
Kemampuan profesiensi setiap air crew, baik para penerbang maupun para teknisi harus tetap terjaga dengan baik, agar tugas dan tanggung jawab yang diemban dapat dilaksanakan sesuai tuntutan tugas yang dipercayakan kepadanya. Oleh karena itu, tuntutan jam terbang bagi setiap air crew harus dipenuhi dengan maksud, agar kemampuan yang dimiliki tidak menurun, akan tetapi harus terus ditingkatkan. Demikian disampaikan Komandan Lanud Abd Saleh, Kolonel Pnb H. RM. Djoko Senoputro, SE., saat apel khusus penerimaan pesawat Hercules A-1323 bertempat di Hanggar Skadron Udara 32 Wing 2 Lanud Abd Saleh.
Lebih lanjut Kolonel Djoko menyampaikan bahwa, sejalan dengan upaya pembinaan kemampuan personel TNI AU, disamping harus disesuaikan dengan perkembangan alat utama sistem senjata masa kini maupun masa yang akan datang, upaya me-maintain profesiensi para air crew juga harus mendapat perhatian serius. Oleh karenanya, Lanud Abd Saleh akan tetap mengupayakan dengan segala kemampuan yang dimiliki, agar kemampuan profesiensi para air crew serta kesiapan operasional satuan tetap terjaga, sehingga tugas-tugas yang dipercayakan dapat terlaksana secara maksimal.
Sejalan dengan kebijakan Kasau yang meng-off-kan sementara pesawat Hercules Tipe B, maka ditindaklanjuti dengan melaksanakan realokasi dua pesawat dari Skadron Udara 31 Halim Perdanakusuma, yaitu pesawat Hercules tipe H dengan register A-1323 dan A-1331. Namun karena A-1331 saat ini masih dalam pemeliharaan, sehingga siang hari ini (Selasa, 11/8) baru A-1323 yang bisa didatangkan ke Lanud Abd Saleh. Langkah ini diambil dengan maksud, agar para air crew Skadron Udara 32 segera dapat melaksanakan training, guna tetap menjaga profesiensinya, sehingga bila komando atas telah menyatakan bahwa pesawat Hercules tipe B telah diijinkan untuk dioperasikan, maka para air crew Skadron Udara 32 telah siap untuk melaksanakan tugas operasi penerbangan sebagaimana biasanya.
Pada kesempatan apel khusus tersebut Danlanud Abd Saleh berpesan agar masalah keamanan dan keselamatan terbang menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan training maupun operasi penerbangan. Hal ini sudah menjadi harga mati yang harus selalu diperhatikan, agar kecelakaan dan kehilangan jiwa manusia maupun kerugian materiil dapat dihindarkan. Untuk itu, seluruh Crew Skadron Udara 32 harus selalu mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku, serta harus tahu batas kemampuan diri sendiri, serta mempunyai sikap safety yang tinggi, karena tidak ada tempat untuk berbuat kesalahan di udara sekecil apapun.
(TNI AU)
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Angkut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Angkut. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 Agustus 2015
Jumat, 31 Juli 2015
Prototipe Pesawat Habibie R80 Mulai Dibuat 2016
Posted By: Admin - 01.23
31 Juli 2015
Rancangan pesawat R-80 (image : Kaskus Militer)
JAKARTA, KOMPAS.com — Prototipe atau purwarupa pesawat terbang rancangan Presiden ketiga RI BJ Habibie bertajuk Regio Prop 80 (R80) ditargetkan mulai dibuat pertengahan 2016, kata Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Habibie.
"Semoga pertengahan tahun depan sudah tuntas semua (desainnya) sehingga pertengahan tahun depan kami sudah mulai membuat prototipe (purwarupa). Masih lama dari segi desain," ujar Ilham di Jakarta, Rabu (29/7/2015).
Ia menuturkan, saat ini pihaknya masih dalam tahap pembuatan desain awal R80, yakni dalam proses pemilihan komponen utama seperti mesin dan sistem pengendalian pesawat.
Pesawat R80 sebelumnya ditargetkan mulai terbang pada 2019, tetapi karena masalah teknis, Ilham memperkirakan pesawat tersebut baru siap diterbangkan pada 2021.
Untuk saat ini, tutur dia, terdapat tiga perusahaan penerbangan yang memesan pesawat itu mencapai total 145 unit, yakni dari Kalstar Indonesia, Nam Air, dan Trigana Air.
Sementara itu, untuk mesin pesawat, ia mengatakan, PT RAI akan menggunakan mesin dari tiga perusahaan, yakni Rolls Royce asal Inggris, Pratt and Whitney asal Amerika Serikat, serta General Electric asal Amerika Serikat.
Pesawat R80, menurut dia, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pesawat lain, di antaranya lebih besar dan hemat dalam penggunaan bahan bakar.
"Saya lihat biaya pengoperasian pesawat 30-50 persennya terkait bahan bakar, jadi mesin sangat menentukan. Kemajuan lain pesawat ini bisa juga di aerodinamika, kenyamanan kabin, material lebih maju, tapi yang paling penting lebih hemat 10-15 persen dibanding pesawat ATR," ujar dia.
Dengan keunggulan tersebut, Ilham mengatakan belum menentukan harga pasti untuk R80 karena belum menentukan mesin dan komponen-komponen yang akan dipakai. Namun, ia memperkirakan akan dibanderol sebesar 22 hingga 25 juta dollar AS per unit.
R80 merupakan suksesor dari pesawat N250 buatan IPTN yang kini disebut PT Dirgantara Indonesia. Sementara PT RAI yang mengembangkan R80 adalah perusahaan pembuat pesawat terbang komersial milik BJ Habibie.
(Kompas)
Rancangan pesawat R-80 (image : Kaskus Militer)
JAKARTA, KOMPAS.com — Prototipe atau purwarupa pesawat terbang rancangan Presiden ketiga RI BJ Habibie bertajuk Regio Prop 80 (R80) ditargetkan mulai dibuat pertengahan 2016, kata Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Habibie.
"Semoga pertengahan tahun depan sudah tuntas semua (desainnya) sehingga pertengahan tahun depan kami sudah mulai membuat prototipe (purwarupa). Masih lama dari segi desain," ujar Ilham di Jakarta, Rabu (29/7/2015).
Ia menuturkan, saat ini pihaknya masih dalam tahap pembuatan desain awal R80, yakni dalam proses pemilihan komponen utama seperti mesin dan sistem pengendalian pesawat.
Pesawat R80 sebelumnya ditargetkan mulai terbang pada 2019, tetapi karena masalah teknis, Ilham memperkirakan pesawat tersebut baru siap diterbangkan pada 2021.
Untuk saat ini, tutur dia, terdapat tiga perusahaan penerbangan yang memesan pesawat itu mencapai total 145 unit, yakni dari Kalstar Indonesia, Nam Air, dan Trigana Air.
Sementara itu, untuk mesin pesawat, ia mengatakan, PT RAI akan menggunakan mesin dari tiga perusahaan, yakni Rolls Royce asal Inggris, Pratt and Whitney asal Amerika Serikat, serta General Electric asal Amerika Serikat.
Pesawat R80, menurut dia, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pesawat lain, di antaranya lebih besar dan hemat dalam penggunaan bahan bakar.
"Saya lihat biaya pengoperasian pesawat 30-50 persennya terkait bahan bakar, jadi mesin sangat menentukan. Kemajuan lain pesawat ini bisa juga di aerodinamika, kenyamanan kabin, material lebih maju, tapi yang paling penting lebih hemat 10-15 persen dibanding pesawat ATR," ujar dia.
Dengan keunggulan tersebut, Ilham mengatakan belum menentukan harga pasti untuk R80 karena belum menentukan mesin dan komponen-komponen yang akan dipakai. Namun, ia memperkirakan akan dibanderol sebesar 22 hingga 25 juta dollar AS per unit.
R80 merupakan suksesor dari pesawat N250 buatan IPTN yang kini disebut PT Dirgantara Indonesia. Sementara PT RAI yang mengembangkan R80 adalah perusahaan pembuat pesawat terbang komersial milik BJ Habibie.
(Kompas)
Kamis, 30 Juli 2015
Seventh C-17A Globemaster III Arrived in Australia
Posted By: Admin - 02.13
30 Juli 2015
Arrival of the seventh Royal Australian Air Force C-17A Globemaster III at RAAF Base Amberley. (photo : Aus DoD)
Fastest C-17A delivery in Australian history
The seventh C-17A Globemaster III aircraft arrived in Australia at RAAF Base Amberley today, marking the fastest C-17A delivery in our fleet.
Minister for Defence Kevin Andrews said the rapid acquisition of the aircraft is a testament to the close relationship that exists between Australia and the United States.
“The active involvement of a number of United States and Australian agencies has been pivotal in meeting the successful delivery of this aircraft and I applaud everyone involved in the acquisition program,” Minister Andrews said.
“This acquisition signifies considerable work opportunities for the local industry, with $300 million being spent to upgrade facilities.
“With its proven ability to transport heavy equipment, vehicles and helicopters in a short time frame, the C-17A’s capabilities are vital to Australia’s national security and safety.”
Chief of Air Force Air Marshal Leo Davies, AO, CSC said the acquisition of two additional C-17A aircraft will increase the Australian Defence Force’s capacity to provide vital community and humanitarian assistance.
“The C-17A fleet has been integral to recent operations including the rapid deployment of Australian forces in support of the Iraq Government , assistance in the Queensland floods, and the recovery of MH17 victims from Eastern Ukraine,” Air Marshal Davies said.
“This latest acquisition will bolster our existing fleet of strategic lift aircraft – providing vital heavy airlift support to a range of operations, and increase our capacity to provide swift disaster relief and humanitarian assistance at home and abroad.
“Under Plan Jericho, the Air Force is dedicated to developing a networked, future joint force that can respond across the spectrum – from combat to humanitarian support. An additional two C-17A aircraft will help us achieve that,” Air Marshal Davies said.
The Government announced the acquisition of two additional C-17A aircraft in April 2015 representing a $1 billion investment in Australia’s security and Defence Force. The eighth C-17A is planned to arrive in Australia in late 2015.
(Aus DoD)
Arrival of the seventh Royal Australian Air Force C-17A Globemaster III at RAAF Base Amberley. (photo : Aus DoD)
Fastest C-17A delivery in Australian history
The seventh C-17A Globemaster III aircraft arrived in Australia at RAAF Base Amberley today, marking the fastest C-17A delivery in our fleet.
Minister for Defence Kevin Andrews said the rapid acquisition of the aircraft is a testament to the close relationship that exists between Australia and the United States.
“The active involvement of a number of United States and Australian agencies has been pivotal in meeting the successful delivery of this aircraft and I applaud everyone involved in the acquisition program,” Minister Andrews said.
“This acquisition signifies considerable work opportunities for the local industry, with $300 million being spent to upgrade facilities.
“With its proven ability to transport heavy equipment, vehicles and helicopters in a short time frame, the C-17A’s capabilities are vital to Australia’s national security and safety.”
Chief of Air Force Air Marshal Leo Davies, AO, CSC said the acquisition of two additional C-17A aircraft will increase the Australian Defence Force’s capacity to provide vital community and humanitarian assistance.
“The C-17A fleet has been integral to recent operations including the rapid deployment of Australian forces in support of the Iraq Government , assistance in the Queensland floods, and the recovery of MH17 victims from Eastern Ukraine,” Air Marshal Davies said.
“This latest acquisition will bolster our existing fleet of strategic lift aircraft – providing vital heavy airlift support to a range of operations, and increase our capacity to provide swift disaster relief and humanitarian assistance at home and abroad.
“Under Plan Jericho, the Air Force is dedicated to developing a networked, future joint force that can respond across the spectrum – from combat to humanitarian support. An additional two C-17A aircraft will help us achieve that,” Air Marshal Davies said.
The Government announced the acquisition of two additional C-17A aircraft in April 2015 representing a $1 billion investment in Australia’s security and Defence Force. The eighth C-17A is planned to arrive in Australia in late 2015.
(Aus DoD)
Rabu, 15 Juli 2015
Apa yang Bisa Rusia Tawarkan pada Indonesia untuk Menggantikan C-130?
Posted By: Admin - 18.16
16 Juli 2015
Pesawat Hercules TNI AU (photo : Kaskus Militer)
Tak lama setelah jatuhnya pesawat angkut militer Hercules C-130 yang menewaskan 140 orang, TNI AU mengumumkan riset awal untuk mencari pesawat pengganti dan sekaligus memodernisasi pesawat militer Indonesia. Negara-negara produsen pesawat dilirik untuk menggantikan pesawat sebelumnya antara lain adalah Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia. RBTH akan membantu menyederhanakan tugas pejabat militer Indonesia dengan memberitahu bahwa Rusia mampu memodernisasi transportasi udara secara umum dan menggantikan posisi C-130 secara khusus.
Salah satu poin penting yang perlu dicatat adalah saat ini analog pesawat C-130 tidak diproduksi di Rusia. Pesawat An-12 adalah pesaing utama Hercules yang sudah memasuki tahun terakhir sebagai bagian dari Angkatan Udara Rusia dan tengah menunggu dengan penggantian pesawat multifungsi Rusia-India MTA.
Namun demikian, militer Indonesia tampaknya ingin pesawat yang berkemampuan besar. Brigadir Jundan Eko Bintoro mengeluarkan pernyataan Indonesia berencana menggantikan C-130 dengan pesawat yang mampu bersaing dengan Boeing C-17 dan A400M.
Dalam hal ini, Rusia adalah pemasok yang dapat dipercaya setelah dibandingkan dengan negara-negara produsen ternama lainnya. Hal ini menjadi salah satu keunggulan Rusia. Perlu diingat bahwa armada pesawat Angkatan Udara Indonesia saat ini sebagian besar merupakan warisan dari embargo senjata yang diberlakukan oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat pada akhir 1990-an dan dihapus pada 2005. Rusia, di sisi lain, adalah pemasok peralatan militer yang dapat diandalkan sejak era Uni Soviet. Transaksi pertama antara kedua negara dilakukan pada 1960.
Jadi, pesawat angkut militer Rusia apa saja yang bisa menarik minat Angkatan Bersenjata Indonesia?
Il-476 (Il-76MD-90A)
Ilyushin IL-76MD-90A (IL-476), payload 52 ton (photo : militaryphotos)
Il-476 merupakan modifikasi baru dari Il-76 yang merupakan dasar dari pesawat angkut Rusia. Pesawat Il-476 menjadi daya tarik tersendiri bagi militer Rusia. Hal ini dibuktikan dengan jumlah pesanan Il-476 sebanyak 39 unit.
Dibandingkan dengan pendahulunya, Il-476 tidak berubah kecuali pada badan pesawat yang dipasangi mesin baru, serta sayapnya yang dimodifikasi, sistem kontrol yang baru, sistem bahan bakar yang baru, autopilot yang baru, sistem navigasi digital yang baru, serta kokpit terbaru yang terbuat dari "kaca" (perangkat kontrol dibuat menggunakan LCD). IL-476 mampu mengangkut beban hingga 60 ton dengan kecepatan jelajah 770 – 800 km/jam pada jarak tempuh sampai dengan 5.000 kilometer.
MTA (Il-214)
UAC/HAL Il-214 Multi-role Transport Aircraft (MTA), payload 20 ton (photo : Livefist)
Pesawat multifungsi ini adalah sebuah proyek kerja sama antara Rusia dan India. Pesawat ini dibuat untuk menggantikan seluruh barisan pesawat An-12, An-26 dan An-72. Saat ini, Il-214 masih dalam proses penyelesaian formasi teknis, dokumentasi, dan penelitian proyek pembangunan.
Il-214 dapat dioperasikan di wilayah dataran tinggi dan mendarat di landasan pacu tak beraspal. Dimensi badan pesawat ini sama dengan karakteristik pesawat Il-76. Karena itu, pesawat ini disebut sebagai pesawat kelas ringan yang mampu mengangkut beban hanya sekitar 12 ton pada jarak hingga 3.700 kilometer atau 20 ton pada jarak hingga 2.000 kilometer.
Tu-330
Tupolev Tu-330, payload 20 ton (photo :Aviatia)
Pesawat jenis ini juga sedang dalam tahap studi proyek. Fitur khususnya adalah fleksibilitas. Pesawat ini tak hanya bisa menggantikan An-12, tetapi juga bisa sebagai alternatif penerbangan jarak menengah berat Il-76. Seperti pesawat angkut militer Rusia lainnya, pesawat ini juga dapat digunakan pada landasan pacu tak beraspal. Keunggulan Tu-330 terletak pada unifikasi yang tinggi dengan pesawat sipil Tu-214 yang telah lebih dulu diluncurkan. Jika dibutuhkan, misalnya, pesawat ini dapat dirancang dan disertifikasi dalam waktu yang sangat singkat untuk Indonesia.
Tu-330 dapat mengangkut beban sekitar 35 ton pada jarak hingga 3.000 kilometer atau dengan beban 20 ton pada jarak hingga 5.600 kilometer.
Il-112V
Ilyushin Il-112V, payload 6 ton (photo : Jane's)
Model lain yang berpotensi dilirik oleh TNI AU adalah pesawat angkut militer kecil Il-112V. Pengembangan pesawat ini dijalankan kembali pada 2013 ketika proyek gabungan An-140-100 dengan Ukraina tidak memenuhi kualitas dan anggaran Angkatan Udara Rusia.
Il-112V memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari model di atas, yaitu munculnya turboprop (seperti yang dimiliki oleh A400M). Pesawat ini dirancang untuk mengangkut hingga 6 ton kargo dengan jarak 6.000 kilometer. Pesawat ini dapat lepas landas dan mendarat pada landasan pacu yang tidak disiapkan dan juga pendek, yaitu sepanjang 800 – 1.000 meter. Salah satu keunggulan lainnya dari Il-112V dibandingkan para pesaingnya adalah peningkatan lebar dan tinggi kompartemen kargo.
Sebagai kesimpulan, jika TNI AU membutuhkan pesawat angkut militer, untuk saat ini Angkatan Udara Indonesia hanya dapat membeli Il-476 milik Rusia. Sementara, model lainnya harus menunggu sampai sekitar tahun 2019.
Namun, jika tertarik, militer Indonesia dapat turut bergabung ke dalam proyek bersama Il-112, MTA, atau Tu-330 seperti India. Dengan begitu, negara Indonesia dapat memaksimalkan kebutuhannya dalam pembangunan pesawat sejak tahap penelitan dan pengembangan, dan mendapatkan akses khusus pada teknologi produksi, perbaikan, serta pemeliharaan. Tentunya, ini adalah hal-hal yang hampir tidak mungkin didapatkan jika membeli pesawat dari Uni Eropa atau Amerika Serikat. Sebagai contoh nyata, Indonesia dapat melihat saat India membeli pesawat tempur Rafale Prancis. Pada kasus tersebut, India mengalami kesulitan untuk melakukan transfer teknologi.
(RBTH)
Pesawat Hercules TNI AU (photo : Kaskus Militer)
Tak lama setelah jatuhnya pesawat angkut militer Hercules C-130 yang menewaskan 140 orang, TNI AU mengumumkan riset awal untuk mencari pesawat pengganti dan sekaligus memodernisasi pesawat militer Indonesia. Negara-negara produsen pesawat dilirik untuk menggantikan pesawat sebelumnya antara lain adalah Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia. RBTH akan membantu menyederhanakan tugas pejabat militer Indonesia dengan memberitahu bahwa Rusia mampu memodernisasi transportasi udara secara umum dan menggantikan posisi C-130 secara khusus.
Salah satu poin penting yang perlu dicatat adalah saat ini analog pesawat C-130 tidak diproduksi di Rusia. Pesawat An-12 adalah pesaing utama Hercules yang sudah memasuki tahun terakhir sebagai bagian dari Angkatan Udara Rusia dan tengah menunggu dengan penggantian pesawat multifungsi Rusia-India MTA.
Namun demikian, militer Indonesia tampaknya ingin pesawat yang berkemampuan besar. Brigadir Jundan Eko Bintoro mengeluarkan pernyataan Indonesia berencana menggantikan C-130 dengan pesawat yang mampu bersaing dengan Boeing C-17 dan A400M.
Dalam hal ini, Rusia adalah pemasok yang dapat dipercaya setelah dibandingkan dengan negara-negara produsen ternama lainnya. Hal ini menjadi salah satu keunggulan Rusia. Perlu diingat bahwa armada pesawat Angkatan Udara Indonesia saat ini sebagian besar merupakan warisan dari embargo senjata yang diberlakukan oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat pada akhir 1990-an dan dihapus pada 2005. Rusia, di sisi lain, adalah pemasok peralatan militer yang dapat diandalkan sejak era Uni Soviet. Transaksi pertama antara kedua negara dilakukan pada 1960.
Jadi, pesawat angkut militer Rusia apa saja yang bisa menarik minat Angkatan Bersenjata Indonesia?
Il-476 (Il-76MD-90A)
Ilyushin IL-76MD-90A (IL-476), payload 52 ton (photo : militaryphotos)
Il-476 merupakan modifikasi baru dari Il-76 yang merupakan dasar dari pesawat angkut Rusia. Pesawat Il-476 menjadi daya tarik tersendiri bagi militer Rusia. Hal ini dibuktikan dengan jumlah pesanan Il-476 sebanyak 39 unit.
Dibandingkan dengan pendahulunya, Il-476 tidak berubah kecuali pada badan pesawat yang dipasangi mesin baru, serta sayapnya yang dimodifikasi, sistem kontrol yang baru, sistem bahan bakar yang baru, autopilot yang baru, sistem navigasi digital yang baru, serta kokpit terbaru yang terbuat dari "kaca" (perangkat kontrol dibuat menggunakan LCD). IL-476 mampu mengangkut beban hingga 60 ton dengan kecepatan jelajah 770 – 800 km/jam pada jarak tempuh sampai dengan 5.000 kilometer.
MTA (Il-214)
UAC/HAL Il-214 Multi-role Transport Aircraft (MTA), payload 20 ton (photo : Livefist)
Pesawat multifungsi ini adalah sebuah proyek kerja sama antara Rusia dan India. Pesawat ini dibuat untuk menggantikan seluruh barisan pesawat An-12, An-26 dan An-72. Saat ini, Il-214 masih dalam proses penyelesaian formasi teknis, dokumentasi, dan penelitian proyek pembangunan.
Il-214 dapat dioperasikan di wilayah dataran tinggi dan mendarat di landasan pacu tak beraspal. Dimensi badan pesawat ini sama dengan karakteristik pesawat Il-76. Karena itu, pesawat ini disebut sebagai pesawat kelas ringan yang mampu mengangkut beban hanya sekitar 12 ton pada jarak hingga 3.700 kilometer atau 20 ton pada jarak hingga 2.000 kilometer.
Tu-330
Tupolev Tu-330, payload 20 ton (photo :Aviatia)
Pesawat jenis ini juga sedang dalam tahap studi proyek. Fitur khususnya adalah fleksibilitas. Pesawat ini tak hanya bisa menggantikan An-12, tetapi juga bisa sebagai alternatif penerbangan jarak menengah berat Il-76. Seperti pesawat angkut militer Rusia lainnya, pesawat ini juga dapat digunakan pada landasan pacu tak beraspal. Keunggulan Tu-330 terletak pada unifikasi yang tinggi dengan pesawat sipil Tu-214 yang telah lebih dulu diluncurkan. Jika dibutuhkan, misalnya, pesawat ini dapat dirancang dan disertifikasi dalam waktu yang sangat singkat untuk Indonesia.
Tu-330 dapat mengangkut beban sekitar 35 ton pada jarak hingga 3.000 kilometer atau dengan beban 20 ton pada jarak hingga 5.600 kilometer.
Il-112V
Ilyushin Il-112V, payload 6 ton (photo : Jane's)
Model lain yang berpotensi dilirik oleh TNI AU adalah pesawat angkut militer kecil Il-112V. Pengembangan pesawat ini dijalankan kembali pada 2013 ketika proyek gabungan An-140-100 dengan Ukraina tidak memenuhi kualitas dan anggaran Angkatan Udara Rusia.
Il-112V memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari model di atas, yaitu munculnya turboprop (seperti yang dimiliki oleh A400M). Pesawat ini dirancang untuk mengangkut hingga 6 ton kargo dengan jarak 6.000 kilometer. Pesawat ini dapat lepas landas dan mendarat pada landasan pacu yang tidak disiapkan dan juga pendek, yaitu sepanjang 800 – 1.000 meter. Salah satu keunggulan lainnya dari Il-112V dibandingkan para pesaingnya adalah peningkatan lebar dan tinggi kompartemen kargo.
Sebagai kesimpulan, jika TNI AU membutuhkan pesawat angkut militer, untuk saat ini Angkatan Udara Indonesia hanya dapat membeli Il-476 milik Rusia. Sementara, model lainnya harus menunggu sampai sekitar tahun 2019.
Namun, jika tertarik, militer Indonesia dapat turut bergabung ke dalam proyek bersama Il-112, MTA, atau Tu-330 seperti India. Dengan begitu, negara Indonesia dapat memaksimalkan kebutuhannya dalam pembangunan pesawat sejak tahap penelitan dan pengembangan, dan mendapatkan akses khusus pada teknologi produksi, perbaikan, serta pemeliharaan. Tentunya, ini adalah hal-hal yang hampir tidak mungkin didapatkan jika membeli pesawat dari Uni Eropa atau Amerika Serikat. Sebagai contoh nyata, Indonesia dapat melihat saat India membeli pesawat tempur Rafale Prancis. Pada kasus tersebut, India mengalami kesulitan untuk melakukan transfer teknologi.
(RBTH)
Selasa, 14 Juli 2015
Pesawat Militer Usia di Atas 30 Tahun akan Dinonaktifkan
Posted By: Admin - 18.53
15 Juli 2015
Pesawat C-130B TNI AU (photo : TNI)
TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia akan menonaktifkan semua pesawat militer berusia lebih dari 30 tahun. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan penonaktifan itu sebagai bagian dari upaya untuk memodernisasi armada setelah bulan lalu terjadi kecelakaan pesawat angkatan udara yang menewaskan sekitar 140 orang.
Namun Ryamizard menolak untuk memberikan rincian tentang berapa pesawat yang akan pensiun atau berapa banyak yang dibutuhkan untuk pengadaan pesawat baru nantinya.
"Kami memiliki peralatan yang telah berusia 30, 40, 50 tahun, pesawat dan helikopter. Dan kami ingin menggantikan mereka dengan pesawat yang lebih baik," kata Menteri Ryacudu pada wartawan setelah bertemu presiden Joko Widodo di Jakarta, dilansir dari laman Trust.Org, 12 Juli 2015.
Presiden Joko Widodo sendiri telah berjanji untuk meningkatkan belanja pertahanan hampir dua kali lipat, setelah sebelumnya hanya mendapat 0,8 persen dari produk domestik bruto, yang merupakan salah satu anggaran terendah, hingga tahun 2020.
Sebelumnya, sebuah pesawat penumpang angkatan udara Hercules C-130B yang membawa 122 orang dinyatakan jatuh di Medan pada 30 Juni, menewaskan semua orang yang berada di pesawat dan beberapa yang berada di darat. Pesawat buatan AS itu sudah mulai melayani penerbangan sejak hampir 50 tahun yang lalu.
(Tempo)
Pesawat C-130B TNI AU (photo : TNI)
TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia akan menonaktifkan semua pesawat militer berusia lebih dari 30 tahun. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan penonaktifan itu sebagai bagian dari upaya untuk memodernisasi armada setelah bulan lalu terjadi kecelakaan pesawat angkatan udara yang menewaskan sekitar 140 orang.
Namun Ryamizard menolak untuk memberikan rincian tentang berapa pesawat yang akan pensiun atau berapa banyak yang dibutuhkan untuk pengadaan pesawat baru nantinya.
"Kami memiliki peralatan yang telah berusia 30, 40, 50 tahun, pesawat dan helikopter. Dan kami ingin menggantikan mereka dengan pesawat yang lebih baik," kata Menteri Ryacudu pada wartawan setelah bertemu presiden Joko Widodo di Jakarta, dilansir dari laman Trust.Org, 12 Juli 2015.
Presiden Joko Widodo sendiri telah berjanji untuk meningkatkan belanja pertahanan hampir dua kali lipat, setelah sebelumnya hanya mendapat 0,8 persen dari produk domestik bruto, yang merupakan salah satu anggaran terendah, hingga tahun 2020.
Sebelumnya, sebuah pesawat penumpang angkatan udara Hercules C-130B yang membawa 122 orang dinyatakan jatuh di Medan pada 30 Juni, menewaskan semua orang yang berada di pesawat dan beberapa yang berada di darat. Pesawat buatan AS itu sudah mulai melayani penerbangan sejak hampir 50 tahun yang lalu.
(Tempo)
Rabu, 08 Juli 2015
Pesawat Hercules Tidak Baru Tetap Dipertimbangkan
Posted By: Admin - 03.51
08 Juli 2015
Skadron udara pesawat angkut TNI AU (image : Tempo)
Dinilai Pesawat Paling Andal, RI Akan Beli Hercules Lagi
VIVA.co.id - Ternyata tragedi jatuhnya pesawat berjenis Hercules beberapa waktu di Medan, Sumatera Utara, tak membuat pemerintah kapok. Bahkan, direncanakan pemerintah akan membeli pesawat serupa dalam waktu dekat.
Rencana tersebut disampaikan langsung Kepala Staf Kepresidenan, Luhut Pandjaitan saat melakukan kunjungan ke Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang.
Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui alutsista Hankam dan produk kerekayasaan strategis, serta kunjungan ke fasilitas laboratorium uji mesin kendaraan dan terowongan angin kepunyaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
"Hercules, mungkin kita akan beli lagi karena kita masih kurang," ujar Luhut kepada VIVA.co.id di Auditorium Gedung Teknologi 2, Puspiptek, Serpong, Tangerang, Senin malam, 6 Juli 2015.
Diungkapkan Luhut, pemerintah memandang kalau pesawat angkut militer itu mempunyai ketangguhan yang belum dikalahkan oleh pesawat lainnya. Sehingga, Hercules layak untuk dipesan kembali, meski pesawat tersebut telah mendapat sorotan setelah kecelakaan di Medan beberapa waktu lalu.
"Hercules itu pesawat yang paling andal. Kita akan beli yang baru," kata Luhut.
Belum diketahui, berapa banyak yang akan dipesan oleh pemerintah kepada Amerika Serikat selaku produsen pesawat Hercules dan kapan pesawat tersebut akan mendarat di Tanah Air.
Meski demikian, Luhut mengungkapkan kalau pemerintah saat ini ingin adanya beberapa komponen dari pesawat Hercules itu dapat dibuat di Indonesia.
"Kita akan beli dari Amerika dan meminta kepada mereka untuk assembling dan sparepart-nya ada di Indonesia yang dipegang oleh Dirgantara," ujar Luhut. (Viva)
Ketua DPD RI Tak Setuju Alutsista Harus Beli Baru
BANDUNG - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Irman Gusman, tidak setuju dengan anggapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia harus beli baru. Menurutnya, insiden kecelakaan Pesawat Hercules C-130 di Medan bukan jadi patokan bahwa alutsista seluruhnya harus diganti.
"Sesungguhnya menurut saya alutsista seperti di Amerika sendiri negara pembuatnya juga masih menggunakan itu. Dalam beberapa tahun itu tidak berarti menunjukkan lifetime-nya selesai. Enggak bisa begitu," kata Irman di Bandung, Senin (6/7/2015).
Dia menambahkan, hal yang terpenting dari alutsista itu adalah perawatan dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang ada di belakangnya. Sehingga, alutsista tidak melulu harus diganti baru saat ada salah satu kasus negatif.
"Jadi jangan mengatakan seolah-olah harus baru. Itu bagusnya. Tapi kalau kita anggarannya terbatas, ya dihitung-hitung," ungkapnya.
Idealnya, alutsista Indonesia memang diganti dengan alutsista baru. Tapi dengan kemampuan anggaran terbatas, menggunakan alutsista yang ada atau membeli alutsista bekas jadi solusi nyata. Itu pun dengan pembelian dan perawatan selektif.
"Mau yang bagus tapi uangnya kurang. Kalau yang baru misalnya harganya 100, kalau yang bekas harganya 60 tapi bisa dicicil, itu kan enggak apa-apa sambil kita menunggu kapan keuangan kita sudah agak baik sehingga kalau kita bisa beli baru kenapa beli bekas," jelas Irman.
Dengan kondisi saat ini, Irman menegaskan perlunya perawatan yang baik untuk alutsista yang ada. Ia beralasan, peralatan baru belum tentu sesuai harapan. Ia mencontohkan ada beberapa pesawat baru milik salah satu maskapai penerbangan komersial yang mengalami kecelakaan. Padahal pesawat yang digunakan adalah pesawat baru.
"Baru pun belum tentu menjamin tidak akan terjadi apakah itu musibah dan lain sebagainya. Yang paling penting semua (kemampuan) SDM dibelakang peralatan itu, iya kan," pungkas Irman.
(Okezone)
Skadron udara pesawat angkut TNI AU (image : Tempo)
Dinilai Pesawat Paling Andal, RI Akan Beli Hercules Lagi
VIVA.co.id - Ternyata tragedi jatuhnya pesawat berjenis Hercules beberapa waktu di Medan, Sumatera Utara, tak membuat pemerintah kapok. Bahkan, direncanakan pemerintah akan membeli pesawat serupa dalam waktu dekat.
Rencana tersebut disampaikan langsung Kepala Staf Kepresidenan, Luhut Pandjaitan saat melakukan kunjungan ke Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang.
Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui alutsista Hankam dan produk kerekayasaan strategis, serta kunjungan ke fasilitas laboratorium uji mesin kendaraan dan terowongan angin kepunyaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
"Hercules, mungkin kita akan beli lagi karena kita masih kurang," ujar Luhut kepada VIVA.co.id di Auditorium Gedung Teknologi 2, Puspiptek, Serpong, Tangerang, Senin malam, 6 Juli 2015.
Diungkapkan Luhut, pemerintah memandang kalau pesawat angkut militer itu mempunyai ketangguhan yang belum dikalahkan oleh pesawat lainnya. Sehingga, Hercules layak untuk dipesan kembali, meski pesawat tersebut telah mendapat sorotan setelah kecelakaan di Medan beberapa waktu lalu.
"Hercules itu pesawat yang paling andal. Kita akan beli yang baru," kata Luhut.
Belum diketahui, berapa banyak yang akan dipesan oleh pemerintah kepada Amerika Serikat selaku produsen pesawat Hercules dan kapan pesawat tersebut akan mendarat di Tanah Air.
Meski demikian, Luhut mengungkapkan kalau pemerintah saat ini ingin adanya beberapa komponen dari pesawat Hercules itu dapat dibuat di Indonesia.
"Kita akan beli dari Amerika dan meminta kepada mereka untuk assembling dan sparepart-nya ada di Indonesia yang dipegang oleh Dirgantara," ujar Luhut. (Viva)
Ketua DPD RI Tak Setuju Alutsista Harus Beli Baru
BANDUNG - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Irman Gusman, tidak setuju dengan anggapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia harus beli baru. Menurutnya, insiden kecelakaan Pesawat Hercules C-130 di Medan bukan jadi patokan bahwa alutsista seluruhnya harus diganti.
"Sesungguhnya menurut saya alutsista seperti di Amerika sendiri negara pembuatnya juga masih menggunakan itu. Dalam beberapa tahun itu tidak berarti menunjukkan lifetime-nya selesai. Enggak bisa begitu," kata Irman di Bandung, Senin (6/7/2015).
Dia menambahkan, hal yang terpenting dari alutsista itu adalah perawatan dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang ada di belakangnya. Sehingga, alutsista tidak melulu harus diganti baru saat ada salah satu kasus negatif.
"Jadi jangan mengatakan seolah-olah harus baru. Itu bagusnya. Tapi kalau kita anggarannya terbatas, ya dihitung-hitung," ungkapnya.
Idealnya, alutsista Indonesia memang diganti dengan alutsista baru. Tapi dengan kemampuan anggaran terbatas, menggunakan alutsista yang ada atau membeli alutsista bekas jadi solusi nyata. Itu pun dengan pembelian dan perawatan selektif.
"Mau yang bagus tapi uangnya kurang. Kalau yang baru misalnya harganya 100, kalau yang bekas harganya 60 tapi bisa dicicil, itu kan enggak apa-apa sambil kita menunggu kapan keuangan kita sudah agak baik sehingga kalau kita bisa beli baru kenapa beli bekas," jelas Irman.
Dengan kondisi saat ini, Irman menegaskan perlunya perawatan yang baik untuk alutsista yang ada. Ia beralasan, peralatan baru belum tentu sesuai harapan. Ia mencontohkan ada beberapa pesawat baru milik salah satu maskapai penerbangan komersial yang mengalami kecelakaan. Padahal pesawat yang digunakan adalah pesawat baru.
"Baru pun belum tentu menjamin tidak akan terjadi apakah itu musibah dan lain sebagainya. Yang paling penting semua (kemampuan) SDM dibelakang peralatan itu, iya kan," pungkas Irman.
(Okezone)
Senin, 06 Juli 2015
TNI AU Juga Pertimbangkan An-70 Sebagai Pengganti Hercules
Posted By: Admin - 17.25
07 Juli 2015
Pesawat Antonov An-70 buatan Ukraina mampu membawa muatan 47 ton, sedangkan pesaingnya dari Barat A-400M dapat membawa muatan 37 ton (photo : Antonov)
Ganti Hercules C-130, TNI AU Incar Dua Pesawat Ini
TEMPO.CO, Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berencana mengganti pesawat angkut berat Hercules C-130 yang sudah uzur. Menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna, kajian mengenai calon pengganti Hercules itu sudah dikirim ke Kementerian Pertahanan.
“Sudah kami kirim jauh-jauh hari sebelum kecelakaan Hercules A-1310 di Medan pekan lalu,” kata Agus kepada Tempo di Markas Besar TNI AU, akhir pekan lalu.
Dalam kajian yang dikirim ke Kementerian Pertahanan, TNI AU mengincar dua jenis pesawat angkut kelas berat, yakni Airbus A400M Atlas dan Antonov An-70. Soal harga masing-masing merupakan ranah Kementerian Pertahanan.
Asisten Perencanaan KSAU Marsekal Muda M. Syafii mengatakan penggantian pesawat Hercules masuk program modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI bertajuk “Minimum Essential Force” (MEF). “Seharusnya masuk dalam rencana strategis pengadaan 2015-2019,” kata Syafii.
Marsekal Agus Supriatna berharap pemerintah memprioritaskan rencana pembelian pesawat angkut berat tersebut, terlebih setelah jatuhnya Hercules di Medan. Kecelakaan pesawat buatan 1964 itu merenggut 33 nyawa personel TNI AU dan enam anggota TNI AD serta 83 warga sipil yang ikut menumpang.
TNI AU menduga Hercules tipe B buatan pabrik Lockheed Martin, Amerika Serikat, itu jatuh karena salah satu mesinnya rusak dan tumbukan dengan menara radio Joy FM yang terpancang dalam radius 15 derajat dari ujung landasan Pangkalan Udara Suwondo, Medan.
Antonov An-70 (photo : Vasilly Koba)
Agus mengatakan pesawat angkut berat merupakan salah satu alat utama sistem persenjataan (alutsista) penting untuk TNI AU. Pesawat jenis ini tidak hanya digunakan untuk misi militer, tetapi juga untuk misi kemanusiaan, seperti mengirim bantuan bila ada bencana alam. Selama ini TNI AU hanya mengandalkan 24 unit Hercules tipe B dan H, yang tersimpan di dua lokasi, yakni di Skuadron 31 Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan Skuadron 32 Abdulrachman Saleh, Malang.
“Tipe B dibuat tahun 1964, sementara tipe H tahun 1978-1982,” kata Agus.
Dia pun meminta pemerintah tidak membeli atau menerima hibah pesawat bekas dari negara asing karena bisa membahayakan pilot dan teknisi. TNI AU juga tak punya riwayat teknis pesawat bekas tersebut. “Berbahaya sekali kalau kami tak tahu pesawat itu pernah rusak apa saja. Berbeda kalau beli baru, kami tahu catatan kerusakan pesawat, jadi kami tahu cara perawatannya,” ujar Agus.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letnan Jenderal Ediwan Prabowo menyatakan kementeriannya setuju dengan rencana TNI AU itu. Sayangnya, Ediwan enggan menyebut besaran dana yang akan diupayakan pemerintah. “Yang jelas, pembelian tersebut masuk rencana strategis MEF 2016-2019,” kata Ediwan, kemarin.
Parlemen memberi lampu hijau. Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya mengatakan jika pemerintah mengajukan pembelian pesawat pengganti Hercules dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016, DPR tidak akan menolak. “Asalkan dananya tersedia dan pemerintah membeli alutsista baru,” ujar Tantowi. “Sudah bukan saatnya lagi beli alutsista bekas.”
Pesawat Antonov An-70 buatan Ukraina mampu membawa muatan 47 ton, sedangkan pesaingnya dari Barat A-400M dapat membawa muatan 37 ton (photo : Antonov)
Ganti Hercules C-130, TNI AU Incar Dua Pesawat Ini
TEMPO.CO, Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berencana mengganti pesawat angkut berat Hercules C-130 yang sudah uzur. Menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna, kajian mengenai calon pengganti Hercules itu sudah dikirim ke Kementerian Pertahanan.
“Sudah kami kirim jauh-jauh hari sebelum kecelakaan Hercules A-1310 di Medan pekan lalu,” kata Agus kepada Tempo di Markas Besar TNI AU, akhir pekan lalu.
Dalam kajian yang dikirim ke Kementerian Pertahanan, TNI AU mengincar dua jenis pesawat angkut kelas berat, yakni Airbus A400M Atlas dan Antonov An-70. Soal harga masing-masing merupakan ranah Kementerian Pertahanan.
Asisten Perencanaan KSAU Marsekal Muda M. Syafii mengatakan penggantian pesawat Hercules masuk program modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI bertajuk “Minimum Essential Force” (MEF). “Seharusnya masuk dalam rencana strategis pengadaan 2015-2019,” kata Syafii.
Marsekal Agus Supriatna berharap pemerintah memprioritaskan rencana pembelian pesawat angkut berat tersebut, terlebih setelah jatuhnya Hercules di Medan. Kecelakaan pesawat buatan 1964 itu merenggut 33 nyawa personel TNI AU dan enam anggota TNI AD serta 83 warga sipil yang ikut menumpang.
TNI AU menduga Hercules tipe B buatan pabrik Lockheed Martin, Amerika Serikat, itu jatuh karena salah satu mesinnya rusak dan tumbukan dengan menara radio Joy FM yang terpancang dalam radius 15 derajat dari ujung landasan Pangkalan Udara Suwondo, Medan.
Antonov An-70 (photo : Vasilly Koba)
Agus mengatakan pesawat angkut berat merupakan salah satu alat utama sistem persenjataan (alutsista) penting untuk TNI AU. Pesawat jenis ini tidak hanya digunakan untuk misi militer, tetapi juga untuk misi kemanusiaan, seperti mengirim bantuan bila ada bencana alam. Selama ini TNI AU hanya mengandalkan 24 unit Hercules tipe B dan H, yang tersimpan di dua lokasi, yakni di Skuadron 31 Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan Skuadron 32 Abdulrachman Saleh, Malang.
“Tipe B dibuat tahun 1964, sementara tipe H tahun 1978-1982,” kata Agus.
Dia pun meminta pemerintah tidak membeli atau menerima hibah pesawat bekas dari negara asing karena bisa membahayakan pilot dan teknisi. TNI AU juga tak punya riwayat teknis pesawat bekas tersebut. “Berbahaya sekali kalau kami tak tahu pesawat itu pernah rusak apa saja. Berbeda kalau beli baru, kami tahu catatan kerusakan pesawat, jadi kami tahu cara perawatannya,” ujar Agus.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letnan Jenderal Ediwan Prabowo menyatakan kementeriannya setuju dengan rencana TNI AU itu. Sayangnya, Ediwan enggan menyebut besaran dana yang akan diupayakan pemerintah. “Yang jelas, pembelian tersebut masuk rencana strategis MEF 2016-2019,” kata Ediwan, kemarin.
Parlemen memberi lampu hijau. Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya mengatakan jika pemerintah mengajukan pembelian pesawat pengganti Hercules dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016, DPR tidak akan menolak. “Asalkan dananya tersedia dan pemerintah membeli alutsista baru,” ujar Tantowi. “Sudah bukan saatnya lagi beli alutsista bekas.”
(Tempo)
Begini Perawatan Pesawat Hercules TNI AU
Posted By: Admin - 17.24
07 Juli 2015
Perawatan Hercules TNI AU (all photos : Tempo)
Pesawat terbang C-130 Hercules, merupakan salah satu pesawat angkut yang sangat diandalkan oleh TNI AU. Tidak terhitung misi tempur dan kemanusiaan yang telah dijalaninya, walaupun berusia cukup tua namun masih dapat diandalkan. Berikut ini rangkaian foto, tentang bagaimana sebuah pesawat legendaris Hercules dirawat.
Beberapa teknisi tengah memperbaiki pesawat Hercules, di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Momen ini sangat langka, dimana awak jurnalis diizinkan untuk ikut dan mengabadikan, proses perawatan pesawat Hercules dan diabadikan pada bulan Mei 2012.
Seorang teknisi sedang memperbaiki bagian kokpit pesawat Hercules. Perawatan dan perbaikan pesawat Hercules mencakup perbaikan dan perawatan sayap, baling-baling, kabin, dan kokpit. Semua kegiatan perbaikan dan perawatan yang ada disebut troubles hooting propeller, atau pemecahan masalah baling-baling.
Sejumlah teknisi memperhatikan mesin baling-baling turboprop pada pesawat Hercules. Menurut Letnan Satu Harjo Saputra, Perwira Teknik Skadron 32 (kandang Hercules tipe B), Hercules mendapat pemeriksaan menyeluruh secara rutin tiap 50 jam terbang. Pemeriksaan juga dilakukan sebelum dan sesudah Hercules terbang, tanpa menunggu jadwal 50 jam.
Dua orang teknisi sedang memperbaiki ban pendarat pada pesawat Hercules. Kerusakan pada Hercules biasanya diketahui dari indikator di kokpit pesawat. Dalam setiap operasi perbaikan Hercules, melibatkan 172 teknisi.
Seorang teknisi sedang memperbaiki komponen elektronik pada pesawat Hercules. Kegiatan perawatan rutin ini sangat penting dilakukan, dan kemampuan serta kehebatan petugas teknisi TNI AU dalam memperbaiki Hercules dan pesawat TNI AU lainnya, bahkan diakui oleh militer negara lain.
(Tempo)
Perawatan Hercules TNI AU (all photos : Tempo)
Pesawat terbang C-130 Hercules, merupakan salah satu pesawat angkut yang sangat diandalkan oleh TNI AU. Tidak terhitung misi tempur dan kemanusiaan yang telah dijalaninya, walaupun berusia cukup tua namun masih dapat diandalkan. Berikut ini rangkaian foto, tentang bagaimana sebuah pesawat legendaris Hercules dirawat.
Beberapa teknisi tengah memperbaiki pesawat Hercules, di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Momen ini sangat langka, dimana awak jurnalis diizinkan untuk ikut dan mengabadikan, proses perawatan pesawat Hercules dan diabadikan pada bulan Mei 2012.
Seorang teknisi sedang memperbaiki bagian kokpit pesawat Hercules. Perawatan dan perbaikan pesawat Hercules mencakup perbaikan dan perawatan sayap, baling-baling, kabin, dan kokpit. Semua kegiatan perbaikan dan perawatan yang ada disebut troubles hooting propeller, atau pemecahan masalah baling-baling.
Sejumlah teknisi memperhatikan mesin baling-baling turboprop pada pesawat Hercules. Menurut Letnan Satu Harjo Saputra, Perwira Teknik Skadron 32 (kandang Hercules tipe B), Hercules mendapat pemeriksaan menyeluruh secara rutin tiap 50 jam terbang. Pemeriksaan juga dilakukan sebelum dan sesudah Hercules terbang, tanpa menunggu jadwal 50 jam.
Dua orang teknisi sedang memperbaiki ban pendarat pada pesawat Hercules. Kerusakan pada Hercules biasanya diketahui dari indikator di kokpit pesawat. Dalam setiap operasi perbaikan Hercules, melibatkan 172 teknisi.
Seorang teknisi sedang memperbaiki komponen elektronik pada pesawat Hercules. Kegiatan perawatan rutin ini sangat penting dilakukan, dan kemampuan serta kehebatan petugas teknisi TNI AU dalam memperbaiki Hercules dan pesawat TNI AU lainnya, bahkan diakui oleh militer negara lain.
(Tempo)
Minggu, 05 Juli 2015
Skuadron Udara 32 : KC-130, Si Pompa Bensin Terbang
Posted By: Admin - 18.50
06 Juli 2015
Pesawat Hercules dari Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, menurunkan penerjun dalam latihan Sikatan Daya 2015, Kamis (4/6), di Air Weapon Range Pandanwangi, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Latihan tersebut untuk memantapkan kesiapan TNI AU dalam menjaga NKRI. (photo : Kompas)
Suatu operasi udara militer membutuhkan dukungan logistik, seperti kemampuan pengisian bahan bakar di udara. Di Indonesia, hal itu hanya disediakan oleh Skuadron Udara 32 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.
Pesawat yang menjadi "pompa bensin udara" tersebut adalah pesawat transpor-tanker Hercules dengan kode KC-130. KC adalah kependekan dari kerosene cargo atau pengangkut bahan bakar. Di Skuadron Udara 32, pesawat transpor ini memiliki registrasi 1309 dan 1310.
"Pesawat 1310 itu yang mengalami musibah di Medan pada 30 Juni lalu. Kita kehilangan para pilot dan awak yang sangat berharga, ditambah satu dari dua pesawat tanker yang selama ini mendukung operasi udara TNI AU dengan pengisian bahan bakar di udara," kata Komandan Wing 2 Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Kolonel (Pnb) M Arifin.
Dengan jatuhnya pesawat 1310 itu, pesawat Hercules lainnya yang dioperasikan Skuadron Udara 32 bisa dikonversi untuk menjadi pesawat KC, tetapi harus dilakukan proses instalasi di luar negeri.
Arifin menuturkan, Singapura juga memiliki pesawat tanker jenis jet berbasis Boeing. Untuk operasi udara ke Australia melintasi wilayah Indonesia, pesawat tempur RSAF (Singapura) tidak perlu mendarat di Indonesia untuk mengisi bahan bakar karena bisa mengisi bahan bakar di udara dengan pesawat tanker tersebut.
KC-130B melayani pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat Su-30 (photo : TNI AU)
Pesawat Hercules tipe KC buatan Amerika Serikat yang dioperasikan Skuadron Udara 32 ini, antara lain, pernah menjalankan prosedur pengisian bahan bakar untuk pesawat tempur Sukhoi 27 dan Sukhoi 30 buatan Rusia. Padahal, biasanya pesawat dari Blok Timur (Rusia) melakukan pengisian bahan bakar di udara dari pesawat tanker buatan Blok Timur. Demikian juga untuk pesawat yang dibuat Blok Barat.
"Kami menjalankan prosedur pengisian bahan bakar di ketinggian 10.000 kaki (sekitar 3 kilometer dari permukaan bumi) dan kecepatan 220 knot (sekitar 300 kilometer per jam). Pesawat Sukhoi mengisi bahan bakar secara bersamaan dari dua selang di kanan dan kiri Hercules. Pengisian berlangsung selama penerbangan sejauh 60 mil (sekitar 100 kilometer)," kenang Arifin tentang peristiwa yang terjadi pada 2010 itu.
Komandan Skuadron 32 Kolonel (Pnb) Sugeng menuturkan, selain dengan pesawat tempur Sukhoi, prosedur pengisian bahan bakar di udara juga dilakukan Skuadron Udara 32 dengan Skuadron Udara 12 Pekanbaru dan Skuadron Udara 1 Pontianak yang mengoperasikan jet tempur Hawk buatan Inggris (Blok Barat).
"Setahun bisa dilakukan 8-9 hingga 10 kali prosedur pengisian bahan bakar di udara. Kami punya prosedur operasi yang ketat untuk menjaga keamanan dan keselamatan," kata Sugeng.
Selain pengisian bahan bakar di udara, Skuadron Udara 32 selaku satuan pertama yang mengoperasikan C-130 Hercules di Indonesia juga menjalankan berbagai misi perang dan operasi militer selain perang (OMSP), seperti tanggap bencana.
Pada 1990-an, para penerbang Skuadron Udara 32 kerap mengikuti perlombaan "Air Rodeo" di Amerika Serikat. Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I Marsekal Muda A Dwi Badarmanto menuturkan, para penerbang TNI AU beberapa kali memenangi lomba "Air Rodeo" dan diakui kemampuan terbangnya oleh penerbang negara lain.
KC-130B Melayani pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat Hawk 200 (photo : TNI AU)
Perawatan
Perawatan KC-130 Hercules sama dengan jenis pesawat Hercules lainnya, yaitu tipe B, C, hingga yang terbaru di Skuadron Udara 32 adalah tipe H, yaitu dilakukan dengan disiplin dan mengutamakan keselamatan penerbangan.
Kepala Seksi Pemeliharaan Skuadron Udara 32 Mayor (Tek) Dwiatmo J mengatakan, semua pesawat Hercules mendapat perawatan rutin setiap 50 jam terbang.
"Setelah 24 kali perawatan tiap 50 jam terbang, diadakan perawatan sedang berdasarkan usia pesawat tiga tahun atau 1.800-2.000 jam terbang. Setelah mencapai 3.600 jam terbang, diadakan structure integrated program (SIP). Mesin, badan pesawat), dan kesenjataan diperiksa serta diperbaiki dengan saksama," kata Dwiatmo. Dia menambahkan, mesin Rolls- Royce yang menjadi sumber tenaga Hercules memiliki masa pakai maksimal 22.000 jam terbang.
Perawatan ringan dan sedang dilakukan di Skuadron Udara 32 atau Skuadron Teknik 22 di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Untuk perawatan berat, Hercules akan diterbangkan ke Depo Pemeliharaan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung.
Meski disiplin dan profesionalitas tetap dijaga, terkadang musibah terjadi, seperti yang menimpa pesawat KC-130 Hercules nomor registrasi 1310. "Kapten Sandy Permana dan para awak adalah penerbang dan teknisi yang sangat baik. Tidak ada kekurangan mereka. Saat baru mendarat di Medan, dia langsung mengirim pesan singkat untuk melapor ke saya. Dia melapor pukul 10.53 lihat ini di HP saya," kata Kol (Pnb) Arifin.
Pesawat F-16C/D sudah memiliki peralatan untuk pengisian bahan bakar di udara (photo : TNI AU)
Harapan
Para penerbang dan anggota Skuadron Udara 32 berharap mereka bisa mengabdi lebih baik lagi. Mereka berharap bisa mengoperasikan pesawat Hercules baru atau pesawat transpor lain yang baru. "Kalau tidak baru minimal pesawat Hercules retrofit. Kami senang sekali jika bisa diberi kepercayaan mengoperasikan Hercules tipe J (termodern) atau tipe H. Negara tetangga banyak yang memakai tipe J dan H. Kita baru punya beberapa tipe H hibah dari Australia," kata Arifin.
Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Marsekal Pertama (TNI) Hadi Tjahjanto menuturkan, negara tetangga, seperti Malaysia, mengoperasikan pesawat transpor modern jenis A-400 M (military) buatan Airbus. Pesawat transpor jet buatan Amerika Serikat C-17 yang berbadan besar juga pernah mendarat di Yogyakarta saat mengirimkan bantuan untuk korban bencana gempa di daerah itu. "Lanud Abdulrachman Saleh siap mengoperasikan pesawat-pesawat baru. Saya mendukung harapan para penerbang yang menjadi operator pesawat transpor dan pesawat tanker itu," kata Hadi.
Skuadron Udara 32 yang sejarahnya menjadi operator pesawat transpor Antonov dan kini C-130 Hercules harus mendapat perhatian. Armada pesawat transpor amat dibutuhkan untuk mendukung kebijakan pertahanan pemerintah, yaitu mengedepankan kemanusiaan dan peperangan tidak konvensional.
(Kompas)
Pesawat Hercules dari Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, menurunkan penerjun dalam latihan Sikatan Daya 2015, Kamis (4/6), di Air Weapon Range Pandanwangi, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Latihan tersebut untuk memantapkan kesiapan TNI AU dalam menjaga NKRI. (photo : Kompas)
Suatu operasi udara militer membutuhkan dukungan logistik, seperti kemampuan pengisian bahan bakar di udara. Di Indonesia, hal itu hanya disediakan oleh Skuadron Udara 32 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.
Pesawat yang menjadi "pompa bensin udara" tersebut adalah pesawat transpor-tanker Hercules dengan kode KC-130. KC adalah kependekan dari kerosene cargo atau pengangkut bahan bakar. Di Skuadron Udara 32, pesawat transpor ini memiliki registrasi 1309 dan 1310.
"Pesawat 1310 itu yang mengalami musibah di Medan pada 30 Juni lalu. Kita kehilangan para pilot dan awak yang sangat berharga, ditambah satu dari dua pesawat tanker yang selama ini mendukung operasi udara TNI AU dengan pengisian bahan bakar di udara," kata Komandan Wing 2 Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Kolonel (Pnb) M Arifin.
Dengan jatuhnya pesawat 1310 itu, pesawat Hercules lainnya yang dioperasikan Skuadron Udara 32 bisa dikonversi untuk menjadi pesawat KC, tetapi harus dilakukan proses instalasi di luar negeri.
Arifin menuturkan, Singapura juga memiliki pesawat tanker jenis jet berbasis Boeing. Untuk operasi udara ke Australia melintasi wilayah Indonesia, pesawat tempur RSAF (Singapura) tidak perlu mendarat di Indonesia untuk mengisi bahan bakar karena bisa mengisi bahan bakar di udara dengan pesawat tanker tersebut.
KC-130B melayani pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat Su-30 (photo : TNI AU)
Pesawat Hercules tipe KC buatan Amerika Serikat yang dioperasikan Skuadron Udara 32 ini, antara lain, pernah menjalankan prosedur pengisian bahan bakar untuk pesawat tempur Sukhoi 27 dan Sukhoi 30 buatan Rusia. Padahal, biasanya pesawat dari Blok Timur (Rusia) melakukan pengisian bahan bakar di udara dari pesawat tanker buatan Blok Timur. Demikian juga untuk pesawat yang dibuat Blok Barat.
"Kami menjalankan prosedur pengisian bahan bakar di ketinggian 10.000 kaki (sekitar 3 kilometer dari permukaan bumi) dan kecepatan 220 knot (sekitar 300 kilometer per jam). Pesawat Sukhoi mengisi bahan bakar secara bersamaan dari dua selang di kanan dan kiri Hercules. Pengisian berlangsung selama penerbangan sejauh 60 mil (sekitar 100 kilometer)," kenang Arifin tentang peristiwa yang terjadi pada 2010 itu.
Komandan Skuadron 32 Kolonel (Pnb) Sugeng menuturkan, selain dengan pesawat tempur Sukhoi, prosedur pengisian bahan bakar di udara juga dilakukan Skuadron Udara 32 dengan Skuadron Udara 12 Pekanbaru dan Skuadron Udara 1 Pontianak yang mengoperasikan jet tempur Hawk buatan Inggris (Blok Barat).
"Setahun bisa dilakukan 8-9 hingga 10 kali prosedur pengisian bahan bakar di udara. Kami punya prosedur operasi yang ketat untuk menjaga keamanan dan keselamatan," kata Sugeng.
Selain pengisian bahan bakar di udara, Skuadron Udara 32 selaku satuan pertama yang mengoperasikan C-130 Hercules di Indonesia juga menjalankan berbagai misi perang dan operasi militer selain perang (OMSP), seperti tanggap bencana.
Pada 1990-an, para penerbang Skuadron Udara 32 kerap mengikuti perlombaan "Air Rodeo" di Amerika Serikat. Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I Marsekal Muda A Dwi Badarmanto menuturkan, para penerbang TNI AU beberapa kali memenangi lomba "Air Rodeo" dan diakui kemampuan terbangnya oleh penerbang negara lain.
KC-130B Melayani pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat Hawk 200 (photo : TNI AU)
Perawatan
Perawatan KC-130 Hercules sama dengan jenis pesawat Hercules lainnya, yaitu tipe B, C, hingga yang terbaru di Skuadron Udara 32 adalah tipe H, yaitu dilakukan dengan disiplin dan mengutamakan keselamatan penerbangan.
Kepala Seksi Pemeliharaan Skuadron Udara 32 Mayor (Tek) Dwiatmo J mengatakan, semua pesawat Hercules mendapat perawatan rutin setiap 50 jam terbang.
"Setelah 24 kali perawatan tiap 50 jam terbang, diadakan perawatan sedang berdasarkan usia pesawat tiga tahun atau 1.800-2.000 jam terbang. Setelah mencapai 3.600 jam terbang, diadakan structure integrated program (SIP). Mesin, badan pesawat), dan kesenjataan diperiksa serta diperbaiki dengan saksama," kata Dwiatmo. Dia menambahkan, mesin Rolls- Royce yang menjadi sumber tenaga Hercules memiliki masa pakai maksimal 22.000 jam terbang.
Perawatan ringan dan sedang dilakukan di Skuadron Udara 32 atau Skuadron Teknik 22 di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Untuk perawatan berat, Hercules akan diterbangkan ke Depo Pemeliharaan di Lanud Husein Sastranegara, Bandung.
Meski disiplin dan profesionalitas tetap dijaga, terkadang musibah terjadi, seperti yang menimpa pesawat KC-130 Hercules nomor registrasi 1310. "Kapten Sandy Permana dan para awak adalah penerbang dan teknisi yang sangat baik. Tidak ada kekurangan mereka. Saat baru mendarat di Medan, dia langsung mengirim pesan singkat untuk melapor ke saya. Dia melapor pukul 10.53 lihat ini di HP saya," kata Kol (Pnb) Arifin.
Pesawat F-16C/D sudah memiliki peralatan untuk pengisian bahan bakar di udara (photo : TNI AU)
Harapan
Para penerbang dan anggota Skuadron Udara 32 berharap mereka bisa mengabdi lebih baik lagi. Mereka berharap bisa mengoperasikan pesawat Hercules baru atau pesawat transpor lain yang baru. "Kalau tidak baru minimal pesawat Hercules retrofit. Kami senang sekali jika bisa diberi kepercayaan mengoperasikan Hercules tipe J (termodern) atau tipe H. Negara tetangga banyak yang memakai tipe J dan H. Kita baru punya beberapa tipe H hibah dari Australia," kata Arifin.
Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Marsekal Pertama (TNI) Hadi Tjahjanto menuturkan, negara tetangga, seperti Malaysia, mengoperasikan pesawat transpor modern jenis A-400 M (military) buatan Airbus. Pesawat transpor jet buatan Amerika Serikat C-17 yang berbadan besar juga pernah mendarat di Yogyakarta saat mengirimkan bantuan untuk korban bencana gempa di daerah itu. "Lanud Abdulrachman Saleh siap mengoperasikan pesawat-pesawat baru. Saya mendukung harapan para penerbang yang menjadi operator pesawat transpor dan pesawat tanker itu," kata Hadi.
Skuadron Udara 32 yang sejarahnya menjadi operator pesawat transpor Antonov dan kini C-130 Hercules harus mendapat perhatian. Armada pesawat transpor amat dibutuhkan untuk mendukung kebijakan pertahanan pemerintah, yaitu mengedepankan kemanusiaan dan peperangan tidak konvensional.
(Kompas)
Kamis, 02 Juli 2015
ANGKATAN UDARA, Helikopter Angkut Sedang, Helikopter Ringan, Helikopter Serang, MYANMAR, Pesawat Angkut
Military Chief Touts Air Force Procurement
Posted By: Admin - 19.33
03 Juli 2015
Mi-35, Eurocopter, Bell 206, Eurocopter, Grob G120TP, Beech 1900D of the Myanmar Air Force (all photos : TAF, abpic, Rovspotters)
RANGOON — The Burma Air Force has purchased 36 aircraft over the last four years, according to a press release from the country’s Ministry of Defense, and a recent report predicts defense spending will increase by nearly one-third by 2020.
In a statement chronicling Snr-Gen Min Aung Hlaing’s attendance at a ceremony christening newly acquired aircraft at a flight training base in Meikhtila, Mandalay Division, on Wednesday, the military commander in chief was quoted as saying the buildup of military hardware was needed to keep Burma on even footing with other countries in the region.
On four occasions the Air Force has upgraded its fleet with “newly acquired, modernized aircraft over four years—29 airplanes of four different types and seven helicopters of three different types—altogether 36,” he said on Wednesday.
The newly acquired aircraft entering service on Wednesday included Beech-1900D and Grob-120 TP airplanes, Eurocopter, Mi-35 and Bell-206 helicopters, according to the announcement.
Meanwhile, a report this month by research firm Research and Markets projected Burma’s military spending to increase by 32 percent from its 2015 level, US$2.8 billion, to $3.7 billion. The findings of the report, titled “Future of the Myanmarese Defense Industry – Market Attractiveness, Competitive Landscape and Forecasts to 2020,” were compared with the period from 2011 to 2015, when the military’s budget allocation increased by 40 percent, from $2 billion to $2.8 billion.
“Myanmarese military expenditure will be driven by the country’s need to ensure a smooth political transition, the civil war prevailing in the country, and a dispute with Bangladesh over the control of oil and gas reserves along its maritime boundaries,” the report says.
The projected increase comes even as the Burmese government continues to seek a nationwide ceasefire agreement with the country’s ethnic armed groups, a yet unfulfilled aspiration that it says is a prerequisite for a more durable peace and national reconciliation.
In recent months, the Burma Air Force has been called into rare action to support ground troops fighting rebels in the Kokang Special Region of northeastern Shan State. Prior to that, the last known air offensive was against positions held by the Kachin Independence Army (KIA) in late 2012.
As a percentage of total spending, Burma is one of the region’s most militaristic countries, a distinction that has persisted for years despite the Southeast Asian nation having no external enemies.
(Irrawaddy)
Mi-35, Eurocopter, Bell 206, Eurocopter, Grob G120TP, Beech 1900D of the Myanmar Air Force (all photos : TAF, abpic, Rovspotters)
RANGOON — The Burma Air Force has purchased 36 aircraft over the last four years, according to a press release from the country’s Ministry of Defense, and a recent report predicts defense spending will increase by nearly one-third by 2020.
In a statement chronicling Snr-Gen Min Aung Hlaing’s attendance at a ceremony christening newly acquired aircraft at a flight training base in Meikhtila, Mandalay Division, on Wednesday, the military commander in chief was quoted as saying the buildup of military hardware was needed to keep Burma on even footing with other countries in the region.
On four occasions the Air Force has upgraded its fleet with “newly acquired, modernized aircraft over four years—29 airplanes of four different types and seven helicopters of three different types—altogether 36,” he said on Wednesday.
The newly acquired aircraft entering service on Wednesday included Beech-1900D and Grob-120 TP airplanes, Eurocopter, Mi-35 and Bell-206 helicopters, according to the announcement.
Meanwhile, a report this month by research firm Research and Markets projected Burma’s military spending to increase by 32 percent from its 2015 level, US$2.8 billion, to $3.7 billion. The findings of the report, titled “Future of the Myanmarese Defense Industry – Market Attractiveness, Competitive Landscape and Forecasts to 2020,” were compared with the period from 2011 to 2015, when the military’s budget allocation increased by 40 percent, from $2 billion to $2.8 billion.
“Myanmarese military expenditure will be driven by the country’s need to ensure a smooth political transition, the civil war prevailing in the country, and a dispute with Bangladesh over the control of oil and gas reserves along its maritime boundaries,” the report says.
The projected increase comes even as the Burmese government continues to seek a nationwide ceasefire agreement with the country’s ethnic armed groups, a yet unfulfilled aspiration that it says is a prerequisite for a more durable peace and national reconciliation.
In recent months, the Burma Air Force has been called into rare action to support ground troops fighting rebels in the Kokang Special Region of northeastern Shan State. Prior to that, the last known air offensive was against positions held by the Kachin Independence Army (KIA) in late 2012.
As a percentage of total spending, Burma is one of the region’s most militaristic countries, a distinction that has persisted for years despite the Southeast Asian nation having no external enemies.
(Irrawaddy)
Pemerintah Siapkan Pesawat Angkut A400 dan C17 Gantikan Hercules
Posted By: Admin - 16.52
03 Juli 2015
C-17 Globemaster dapat membawa muatan hingga 77 ton, dapat untuk mengangkut tank Leopard (photo : militaryphotos)
Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya TNI Angkatan Udara masih mengandalkan dua skuadron pesawat angkut lawas jenis Hercules sebagai tulang punggung pengiriman logistik ke daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Padahal, pesawat tersebut sudah berumur lebih dari 50 tahun dan di negara lain sudah lama dimuseumkan.
Pascamusibah jatuhnye Hercules di Medan, Sumatera Utara, banyak dorongan agar TNI meng-grounded pesawat-pesawat lawas. Tujuanya, selain untuk meminimalisir kejadian serupa juga untuk peremajaan dan penguatan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) nasional.
Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Djundan Eko Bintoro, menegaskan, rencana untuk menggantikan peran pesawat angkut jenis Hercules sudah ada dalam rencana strategis (Renstra) dua 2015-2019.
A400M dapat membawa muatan hingga 37 ton, lebih tinggi dibandingkan varian terbaru Hercules C-130J dengan 19 ton muatan (photo : militaryphotos)
“Pada renstra dua 2015-2019 akan ada perkuatan dengan memperbaharui skuadron angkut dengan pesawat (Airbus) A400 atau C17,” kata Djundan, Kamis (2/7)
Seperti halnya Hercules, Pesawat Airbus A400 merupakan pesawat angkut militer yang juga bermesin empat turboprop. Pesawat tersebut pertamakali melakukan penerbangan uji coba perdana di Sevilla, Spanyol pada akhir 2009 lalu. Pesawat ini dirancang oleh divisi militer Airbus untuk mengganti atau melengkapi pesawat yang digunakan dalam peran angkutan udara taktis.
Sedangkan pesawat jenis C-17 merupakan sebuah pesawat angkut militer Amerika Serikat yang diproduksi oleh Boeing Integrated Defense Systems dan sudah dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, Angkatan Udara Britania Raya dan Angkatan Udara Australia.
(Berita Satu)
C-17 Globemaster dapat membawa muatan hingga 77 ton, dapat untuk mengangkut tank Leopard (photo : militaryphotos)
Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya TNI Angkatan Udara masih mengandalkan dua skuadron pesawat angkut lawas jenis Hercules sebagai tulang punggung pengiriman logistik ke daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Padahal, pesawat tersebut sudah berumur lebih dari 50 tahun dan di negara lain sudah lama dimuseumkan.
Pascamusibah jatuhnye Hercules di Medan, Sumatera Utara, banyak dorongan agar TNI meng-grounded pesawat-pesawat lawas. Tujuanya, selain untuk meminimalisir kejadian serupa juga untuk peremajaan dan penguatan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) nasional.
Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Djundan Eko Bintoro, menegaskan, rencana untuk menggantikan peran pesawat angkut jenis Hercules sudah ada dalam rencana strategis (Renstra) dua 2015-2019.
A400M dapat membawa muatan hingga 37 ton, lebih tinggi dibandingkan varian terbaru Hercules C-130J dengan 19 ton muatan (photo : militaryphotos)
“Pada renstra dua 2015-2019 akan ada perkuatan dengan memperbaharui skuadron angkut dengan pesawat (Airbus) A400 atau C17,” kata Djundan, Kamis (2/7)
Seperti halnya Hercules, Pesawat Airbus A400 merupakan pesawat angkut militer yang juga bermesin empat turboprop. Pesawat tersebut pertamakali melakukan penerbangan uji coba perdana di Sevilla, Spanyol pada akhir 2009 lalu. Pesawat ini dirancang oleh divisi militer Airbus untuk mengganti atau melengkapi pesawat yang digunakan dalam peran angkutan udara taktis.
Sedangkan pesawat jenis C-17 merupakan sebuah pesawat angkut militer Amerika Serikat yang diproduksi oleh Boeing Integrated Defense Systems dan sudah dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, Angkatan Udara Britania Raya dan Angkatan Udara Australia.
(Berita Satu)
Rabu, 01 Juli 2015
Ini Sejarah dan Fakta tentang Hercules C-130 TNI AU
Posted By: Admin - 19.27
02 Juli 2015
Pesawat Hercules nomor A1310 (photo : Ali Hanafiah)
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia tercatat sebagai negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan C-130 Hercules.
Latar belakangnya adalah Allan Pope, pilot swasta Amerika Serikat yang bisa ditembak jatuh dan ditangkap seturut PRRI/Permesta pada 1958.
Skuadron Udara 31 Hercules Sang Penjelajah terbitan TNI AU, menuturkan, bermula dari kunjungan Presiden Soekarno kepada koleganya, Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, akhir 1959.
Kennedy berterima kasih atas kesediaan Indonesia melepas Pope, pilot CIA berstatus sipil itu yang memperkuat AUREV-Permesta, yang ditembak jatuh Kapten Udara Penerbang Dewanto, dalam pertempuran udara.
Ini juga satu-satunya dog fight bersenjata dan menang oleh penerbang tempur TNI AU hingga kini.
Kennedy menawarkan "pengganti" Pope kepada Soekarno, dan berdasarkan "keperluan" dari Panglima AU, Laksamana Madya Udara Suryadarma, AURI memerlukan pengganti pesawat transportasi de Havilland Canada DHC-4 Caribou.
Pilihan kemudian C-130B Hercules, dalam kunjungan Soekarno ke pabriknya, Lockheed (belum bergabung dengan Martin).
Akhirnya 10 C-130B bisa diterbangkan secara ferry ke Tanah Air; yang membanggakan, penerbangan-penerbangan itu dilakukan langsung oleh pilot dan awak AURI.
Saat itu, delapan C-130B kargo dan 2 C-130B tanker bisa dibawa ke Pelabuhan Udara Kemayoran, Jakarta.
"Itu menunjukkan bangsa Indonesia disegani dan memiliki posisi tawar yang kuat di mata Amerika Serikat," kata Mersekal Pertama TNI Teguh David, dalam buku itu.
Fakta menyatakan, pendaratan pertama C-130B Hercules ke Tanah Air dilakukan Mayor Udara Penerbang S Tjokroadiredjo, Letnan Muda Udara II A Cargua, Sersan Mayor Udara S Wijono, dan Kapten Udara Navigator The Hing Ho.
Juga Sersan Mayor Udara M Smith, Kapten Udara Penerbang Pribadi, Letnan Muda Udara II Alex Telelepta, Sersan Mayor Udara Ali Nursjamsu, Letnan Muda Udara I Basjir, Letnan Muda Udara I Sukarno, Letnan Muda Udara I Arifin Sarodja, dan Kapten Muda Udara Sasmito Notokusumo.
Fakta selanjutnya, itulah pertama kalinya terjadi penerbangan ferry terjauh untuk semua jenis pesawat terbang, C-130B AURI terbang sejauh 13.000 mil laut melintasi tiga samudera dari pabrikan ke negara operatornya.
Itu juga penerbangan internasional pertama yang 100 persen diawaki personel aktif AURI, dan belum pernah terjadi pada militer lain di dunia saat itu.
Fakta pada penerbangan 18 Maret 1960 itu menjadikan Indonesia operator terbanyak C-130 Hercules di belahan selatan dunia di kemudian hari.
Saat itu, 10 C-130B dimasukkan ke dalam Skuadron Udara Angkut Berat AURI mendampingi Skuadron Udara 2 berintikan C-47 Dakota/Skytrain.
C-130B saat itu menjadi pesawat multiengine perdana di Tanah Air berteknologi turboprop, suatu lompatan teknologi penting dan besar yang ternyata bisa cepat dikuasai putera-putera bangsa.
Hal ini dipuji secara khusus oleh Menteri Keamanan Nasional, Jenderal AH Nasution, dan beberapa petinggi Lockheed.
Dikarenakan jumlahnya cukup banyak, maka pada 19 Februari 1962, didirikanlah Skuadron Udara 31 angkut berat, disusul Skuadron Udara 32 pada 29 Desember 1965. Yang unik, C-130B saat itu kemudian berdampingan dengan Antonov An-12 buatan Uni Soviet di Skuadron Udara 31.
Fakta saat itu, kedua skuadron udara itu (31 dan 32) berpangkalan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Kemudian Skuadon Udara 32 dipindahkan ke Pangkalan Udara Utama 32 Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada 1976.
Skuadron Udara 32 sempat dinonaktifkan sejalan penonaktifan Antonov An-12 pada 11 Mei 1965; kemudian diaktifkan lagi pada 11 Juli 1981, yang keseluruhannya berisikan C-130B.
Saat itu, pembagian kekuatan udara di antara kedua skuadron udara adalah enam C-130HS (nomor registrasi A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, dan A-1324 plus C-130H/A-1323) untuk Skuadron Udara 31.
Skuadron Udara 32 mendapat dua C-130B (A-1301-A-1313), dua C-130H (A-1315 dan A-1316), dan dua C-130KC (tanker udara, A-1309 dan A-1310).
Sebetulnya, masih ada beberapa varian C-130 Hercules yang dioperasikan TNI AU (kemudian), yaitu satu versi sipil C-130 Hercules, L-100-30, yang lalu dikonversi ke militer (A-1314) dan C-130HS (A-1341) yang didedikasikan pada Skuadron Udara 17 VIP.
A-1314 dan A-1341 dinomori di luar kelaziman, karena jika dijumlah, baik angka 1314 dan 1341 akan menghasilkan angka 9; ini sesuai pemberian langsung dari Menhankam/Panglima ABRI (saat itu), Jenderal TNI M Yusuf.
Fakta menunjukkan, Skuadron Udara 17 VIP merupakan satu-satunya skuadron udara militer di dunia yang mengoperasikan C-130 dan variannya sebagai pesawat terbang VIP kenegaraan resmi.
Skuadron Udara 5 pernah mendapat satu C-130MPH bernomor registrasi A-1322 sebagai pesawat intai maritim yang dijejali sensor elektronika penjejak.
Fakta berikutnya adalah tambahan 12 unit C-130H series yang dibeli pada dasawarsa '80-an, yaitu tiga C-130H (A-1315, A-1316, dan A-1323), satu unit C-130MPH (A-1322), tujuh unit C-130HS (A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, A-1321, A-1324, dan A-1341), satu unit L-100-30 (A-1314).
Fakta lain, penambahan pesawat terbang transport berat ini terjadi pada 1995, yaitu dua L-100-30 hibah dari PT Merpati Nusantara Airlines (A-1325 dan A-1326) dan tiga unit L-100-30 dari PT Pelita Air Service (A-1327, A-1328, dan A-1329).
Sampai saat ini, TNI AU mengoperasikan hingga 28 unit C-130 Hercules dari berbagai varian, terbanyak di belahan selatan dunia.
Jika hibah sembilan unit C-130H Hercules dari Australia telah tiba semuanya, maka akan semakin banyak lagi "koleksi" C-130 Hercules kita, terdaftar hingga 37 unit.
(Kompas)
Pesawat Hercules nomor A1310 (photo : Ali Hanafiah)
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia tercatat sebagai negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan C-130 Hercules.
Latar belakangnya adalah Allan Pope, pilot swasta Amerika Serikat yang bisa ditembak jatuh dan ditangkap seturut PRRI/Permesta pada 1958.
Skuadron Udara 31 Hercules Sang Penjelajah terbitan TNI AU, menuturkan, bermula dari kunjungan Presiden Soekarno kepada koleganya, Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, akhir 1959.
Kennedy berterima kasih atas kesediaan Indonesia melepas Pope, pilot CIA berstatus sipil itu yang memperkuat AUREV-Permesta, yang ditembak jatuh Kapten Udara Penerbang Dewanto, dalam pertempuran udara.
Ini juga satu-satunya dog fight bersenjata dan menang oleh penerbang tempur TNI AU hingga kini.
Kennedy menawarkan "pengganti" Pope kepada Soekarno, dan berdasarkan "keperluan" dari Panglima AU, Laksamana Madya Udara Suryadarma, AURI memerlukan pengganti pesawat transportasi de Havilland Canada DHC-4 Caribou.
Pilihan kemudian C-130B Hercules, dalam kunjungan Soekarno ke pabriknya, Lockheed (belum bergabung dengan Martin).
Akhirnya 10 C-130B bisa diterbangkan secara ferry ke Tanah Air; yang membanggakan, penerbangan-penerbangan itu dilakukan langsung oleh pilot dan awak AURI.
Saat itu, delapan C-130B kargo dan 2 C-130B tanker bisa dibawa ke Pelabuhan Udara Kemayoran, Jakarta.
"Itu menunjukkan bangsa Indonesia disegani dan memiliki posisi tawar yang kuat di mata Amerika Serikat," kata Mersekal Pertama TNI Teguh David, dalam buku itu.
Fakta menyatakan, pendaratan pertama C-130B Hercules ke Tanah Air dilakukan Mayor Udara Penerbang S Tjokroadiredjo, Letnan Muda Udara II A Cargua, Sersan Mayor Udara S Wijono, dan Kapten Udara Navigator The Hing Ho.
Juga Sersan Mayor Udara M Smith, Kapten Udara Penerbang Pribadi, Letnan Muda Udara II Alex Telelepta, Sersan Mayor Udara Ali Nursjamsu, Letnan Muda Udara I Basjir, Letnan Muda Udara I Sukarno, Letnan Muda Udara I Arifin Sarodja, dan Kapten Muda Udara Sasmito Notokusumo.
Fakta selanjutnya, itulah pertama kalinya terjadi penerbangan ferry terjauh untuk semua jenis pesawat terbang, C-130B AURI terbang sejauh 13.000 mil laut melintasi tiga samudera dari pabrikan ke negara operatornya.
Itu juga penerbangan internasional pertama yang 100 persen diawaki personel aktif AURI, dan belum pernah terjadi pada militer lain di dunia saat itu.
Fakta pada penerbangan 18 Maret 1960 itu menjadikan Indonesia operator terbanyak C-130 Hercules di belahan selatan dunia di kemudian hari.
Saat itu, 10 C-130B dimasukkan ke dalam Skuadron Udara Angkut Berat AURI mendampingi Skuadron Udara 2 berintikan C-47 Dakota/Skytrain.
C-130B saat itu menjadi pesawat multiengine perdana di Tanah Air berteknologi turboprop, suatu lompatan teknologi penting dan besar yang ternyata bisa cepat dikuasai putera-putera bangsa.
Hal ini dipuji secara khusus oleh Menteri Keamanan Nasional, Jenderal AH Nasution, dan beberapa petinggi Lockheed.
Dikarenakan jumlahnya cukup banyak, maka pada 19 Februari 1962, didirikanlah Skuadron Udara 31 angkut berat, disusul Skuadron Udara 32 pada 29 Desember 1965. Yang unik, C-130B saat itu kemudian berdampingan dengan Antonov An-12 buatan Uni Soviet di Skuadron Udara 31.
Fakta saat itu, kedua skuadron udara itu (31 dan 32) berpangkalan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Kemudian Skuadon Udara 32 dipindahkan ke Pangkalan Udara Utama 32 Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada 1976.
Skuadron Udara 32 sempat dinonaktifkan sejalan penonaktifan Antonov An-12 pada 11 Mei 1965; kemudian diaktifkan lagi pada 11 Juli 1981, yang keseluruhannya berisikan C-130B.
Saat itu, pembagian kekuatan udara di antara kedua skuadron udara adalah enam C-130HS (nomor registrasi A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, dan A-1324 plus C-130H/A-1323) untuk Skuadron Udara 31.
Skuadron Udara 32 mendapat dua C-130B (A-1301-A-1313), dua C-130H (A-1315 dan A-1316), dan dua C-130KC (tanker udara, A-1309 dan A-1310).
Sebetulnya, masih ada beberapa varian C-130 Hercules yang dioperasikan TNI AU (kemudian), yaitu satu versi sipil C-130 Hercules, L-100-30, yang lalu dikonversi ke militer (A-1314) dan C-130HS (A-1341) yang didedikasikan pada Skuadron Udara 17 VIP.
A-1314 dan A-1341 dinomori di luar kelaziman, karena jika dijumlah, baik angka 1314 dan 1341 akan menghasilkan angka 9; ini sesuai pemberian langsung dari Menhankam/Panglima ABRI (saat itu), Jenderal TNI M Yusuf.
Fakta menunjukkan, Skuadron Udara 17 VIP merupakan satu-satunya skuadron udara militer di dunia yang mengoperasikan C-130 dan variannya sebagai pesawat terbang VIP kenegaraan resmi.
Skuadron Udara 5 pernah mendapat satu C-130MPH bernomor registrasi A-1322 sebagai pesawat intai maritim yang dijejali sensor elektronika penjejak.
Fakta berikutnya adalah tambahan 12 unit C-130H series yang dibeli pada dasawarsa '80-an, yaitu tiga C-130H (A-1315, A-1316, dan A-1323), satu unit C-130MPH (A-1322), tujuh unit C-130HS (A-1317, A-1318, A-1319, A-1320, A-1321, A-1324, dan A-1341), satu unit L-100-30 (A-1314).
Fakta lain, penambahan pesawat terbang transport berat ini terjadi pada 1995, yaitu dua L-100-30 hibah dari PT Merpati Nusantara Airlines (A-1325 dan A-1326) dan tiga unit L-100-30 dari PT Pelita Air Service (A-1327, A-1328, dan A-1329).
Sampai saat ini, TNI AU mengoperasikan hingga 28 unit C-130 Hercules dari berbagai varian, terbanyak di belahan selatan dunia.
Jika hibah sembilan unit C-130H Hercules dari Australia telah tiba semuanya, maka akan semakin banyak lagi "koleksi" C-130 Hercules kita, terdaftar hingga 37 unit.
(Kompas)
Selasa, 30 Juni 2015
TNI AU Kandangkan Seluruh Pesawat Hercules Tipe B
Posted By: Admin - 18.44
01 Juli 2015
Pesawat Hercules nomor 1310 yang jatuh di Medan adalah pesawat KC-130B Hercules tipe tanker (photo : Jeff Prananda)
Jakarta - TNI AU meng-grounded seluruh pesawat Hercules tipe B karena kecelakaan yang terjadi di Medan siang tadi. Seluruh pesawat itu akan dikandangkan sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Seluruh Hercules tipe B kita stop dulu," ujar KSAU Marsekal Agus Supriyatna, saat dikonfirmasi, Selasa (30/6/2015).
Lalu sampai kapan pesawat itu boleh mengangkut pasukan lagi? Atas pertanyaan itu Agus belum bisa memastikan kapan proses grounded itu akan dicabut.
"Itu sampai ditentukan pesawat tipe B bisa untuk angkut lagi," ujarnya.
Agus menegaskan tidak ada kendala atas pesawawt Hercules C 130 yang nahas itu. Pesawat dengan nomor lambung A 1310 itu diketahui buatan Amerika Serikat tahun 1964.
"Pesawat itu tidak ada kendala !" tegasnya.(Detik)
Sejak Tahun 2000, Indonesia Kehilangan 4 Hercules
Pesawat C-130 Hercules yang jatuh di Medan Selasa 30 Juni 2015 adalah pesawat keempat milik angkatan udara Indonesia yang celaca dalam 15 tahun terakhir. Database Data Flightglobal’s Ascend Fleets menyebutkan bahwa pesawat ini diterima Indonesia pada tahun 1961. Pesawat ini sempat diparkir 1999-2004 ketika kembali ke layanan. Pesawat in dijadwalkan untuk menjalani modernisasi pada 2016.
Ascend menunjukkan bahwa ini adalah kecelakaan besar keempat di Indonesia yang melibatkan Hercules sejak tahun 2000. Sementara jika sejak 1985 terjadi setidaknya enam kecelakaan. Berikut daftarnya
20 November 1985
Hercules C-130-MP milik TNI AU jatuh setelah menabrak dinding pegunungan Sibayak. menewaskan 10 awak pesawat.
5 Oktober 1991
Pesawat Hercules C-130 jatuh di Condet, Jakarta Timur. 135 orang menjadi korban dari kecelakaan ini. Korban terdiri dari 12 orang awak dan 121 lainnya adalah anggota Paskhas AU, serta dua satpam Balai Latihan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
20 Desember 2001
Pada tahun 2001 L-100-30 (salah satu varian C-130) angkatan udara Indonesia jatuh di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Utara. Pesawat ini mengangkut penumpang dan amunisi terjatuh karena kegagalan pendaratan sehingga mengalami total loss. Mengangkut 90 penumpang, diantaranya 70 perwira TNI, 27 perwira Kostrad, dan delapan perwira Kopassus.
11 Mei 2009
Hercules C-130 milik TNI AU terjatuh di Bandara Wamena, Papua. Penyebabnya adalah pesawat ini mengalami copot ban saat mendarat. Roda pesawat yang copot menghantam satu warga. Setelah itu pesawat tidak lagi digunakan.
20 Mei 2009
Pesawat Hercules C-130 jenis Long Body terjatuh di Desa Geplak, Karas, Magetan Jawa Timur setelah terbang dari bandara Halim Perdanakusuma menuju Bandara Iswahyudi. Pesawat dengan nomor registrasi A1325 mengangkut 120 orang. Jatuh sekitar pukul 06.25 WIB. Bencana mengakibatkan 97 orang tewas dan 15 luka-luka.
30 Juni 2015
Hercules C-130 milik TNI AU terjatuh di Jalan Jamin Ginting Kota Medan Sumatera Utara sekitar pukul 12.14 WIB. Pesawat ini jatuh tak lama setelah lepas landas dari Lanud Soewondo (eks. Bandara Polonia).
(Jejak tapak)
Pesawat Hercules nomor 1310 yang jatuh di Medan adalah pesawat KC-130B Hercules tipe tanker (photo : Jeff Prananda)
Jakarta - TNI AU meng-grounded seluruh pesawat Hercules tipe B karena kecelakaan yang terjadi di Medan siang tadi. Seluruh pesawat itu akan dikandangkan sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Seluruh Hercules tipe B kita stop dulu," ujar KSAU Marsekal Agus Supriyatna, saat dikonfirmasi, Selasa (30/6/2015).
Lalu sampai kapan pesawat itu boleh mengangkut pasukan lagi? Atas pertanyaan itu Agus belum bisa memastikan kapan proses grounded itu akan dicabut.
"Itu sampai ditentukan pesawat tipe B bisa untuk angkut lagi," ujarnya.
Agus menegaskan tidak ada kendala atas pesawawt Hercules C 130 yang nahas itu. Pesawat dengan nomor lambung A 1310 itu diketahui buatan Amerika Serikat tahun 1964.
"Pesawat itu tidak ada kendala !" tegasnya.(Detik)
Sejak Tahun 2000, Indonesia Kehilangan 4 Hercules
Pesawat C-130 Hercules yang jatuh di Medan Selasa 30 Juni 2015 adalah pesawat keempat milik angkatan udara Indonesia yang celaca dalam 15 tahun terakhir. Database Data Flightglobal’s Ascend Fleets menyebutkan bahwa pesawat ini diterima Indonesia pada tahun 1961. Pesawat ini sempat diparkir 1999-2004 ketika kembali ke layanan. Pesawat in dijadwalkan untuk menjalani modernisasi pada 2016.
Ascend menunjukkan bahwa ini adalah kecelakaan besar keempat di Indonesia yang melibatkan Hercules sejak tahun 2000. Sementara jika sejak 1985 terjadi setidaknya enam kecelakaan. Berikut daftarnya
20 November 1985
Hercules C-130-MP milik TNI AU jatuh setelah menabrak dinding pegunungan Sibayak. menewaskan 10 awak pesawat.
5 Oktober 1991
Pesawat Hercules C-130 jatuh di Condet, Jakarta Timur. 135 orang menjadi korban dari kecelakaan ini. Korban terdiri dari 12 orang awak dan 121 lainnya adalah anggota Paskhas AU, serta dua satpam Balai Latihan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
20 Desember 2001
Pada tahun 2001 L-100-30 (salah satu varian C-130) angkatan udara Indonesia jatuh di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Utara. Pesawat ini mengangkut penumpang dan amunisi terjatuh karena kegagalan pendaratan sehingga mengalami total loss. Mengangkut 90 penumpang, diantaranya 70 perwira TNI, 27 perwira Kostrad, dan delapan perwira Kopassus.
11 Mei 2009
Hercules C-130 milik TNI AU terjatuh di Bandara Wamena, Papua. Penyebabnya adalah pesawat ini mengalami copot ban saat mendarat. Roda pesawat yang copot menghantam satu warga. Setelah itu pesawat tidak lagi digunakan.
20 Mei 2009
Pesawat Hercules C-130 jenis Long Body terjatuh di Desa Geplak, Karas, Magetan Jawa Timur setelah terbang dari bandara Halim Perdanakusuma menuju Bandara Iswahyudi. Pesawat dengan nomor registrasi A1325 mengangkut 120 orang. Jatuh sekitar pukul 06.25 WIB. Bencana mengakibatkan 97 orang tewas dan 15 luka-luka.
30 Juni 2015
Hercules C-130 milik TNI AU terjatuh di Jalan Jamin Ginting Kota Medan Sumatera Utara sekitar pukul 12.14 WIB. Pesawat ini jatuh tak lama setelah lepas landas dari Lanud Soewondo (eks. Bandara Polonia).
(Jejak tapak)
Minggu, 28 Juni 2015
First RAAF C-27J Touches Down
Posted By: Admin - 19.34
29 Juni 2015
A34-001 on approach to Richmond. (photo : Seth Jaworski)
The first of 10 Alenia C-27J Spartan tactical airlifters for the RAAF has touched down at its new home of RAAF Base Richmond.
The aircraft, A34-001, landed at Richmond at approximately 3:45 on Thursday afternoon at the end of the last leg of its delivery flight from prime contractor L-3’s Waco, Texas facility, where it departed on June 15.
A second C-27J, A34-002, is expected to be delivered to Richmond in August.
A34-001 had entered Alenia Aermacchi’s Turin assembly line in December 2012 and first flew on December 18 2013. It was ferried to L-3 in Waco in March 2014 for fitment of its ballistic protection matting, EW/self-protection systems, and communications suite. The RAAF then accepted the first two C-27J Spartans onto the Commonwealth register, and commenced training on the aircraft at L-3’s facility at Waco, last December.
The C-27Js are being acquired as battlefield airlifters to replace the capability lost with the retirement of the DHC-4 Caribou in 2009. Ultimately the C-27Js will be based at Amberley.
(Australian Aviation)
A34-001 on approach to Richmond. (photo : Seth Jaworski)
The first of 10 Alenia C-27J Spartan tactical airlifters for the RAAF has touched down at its new home of RAAF Base Richmond.
The aircraft, A34-001, landed at Richmond at approximately 3:45 on Thursday afternoon at the end of the last leg of its delivery flight from prime contractor L-3’s Waco, Texas facility, where it departed on June 15.
A second C-27J, A34-002, is expected to be delivered to Richmond in August.
A34-001 had entered Alenia Aermacchi’s Turin assembly line in December 2012 and first flew on December 18 2013. It was ferried to L-3 in Waco in March 2014 for fitment of its ballistic protection matting, EW/self-protection systems, and communications suite. The RAAF then accepted the first two C-27J Spartans onto the Commonwealth register, and commenced training on the aircraft at L-3’s facility at Waco, last December.
The C-27Js are being acquired as battlefield airlifters to replace the capability lost with the retirement of the DHC-4 Caribou in 2009. Ultimately the C-27Js will be based at Amberley.
(Australian Aviation)
Langganan:
Postingan (Atom)





























Popular
Tags
Videos